• Jam Operasional: Senin - Kamis (08.00 - 16.00) | Jumat (07.30 - 14.00)
  • img-1
Makna Historis dibalik Pasar Gang Baru dan Pasar Sentiling

Makna Historis dibalik Pasar Gang Baru dan Pasar Sentiling

By Super Admin  

Makna Historis dibalik Pasar Gang Baru dan Pasar Sentiling

Lusuh. Kotor. Jorok. Sayur. Buah. Daging. Ini merupakan hal yang muncul ketika menyebut kata yang merujuk kepada suatu tempat, pasar. Pasar identik dengan tempat yang jorok, kotor dan terkesan semrawut. Tetapi itu adalah masa lalu. Saat ini, sepertinya pasar sudah sangat jauh dari kata kotor, jorok, dan acak-acakan, walaupun masih menjual bahan pokok yang sama. Perbedaan keadaan pasar dulu dan sekarang adalah selain dari tingkat kebersihan nya, adalah pengunjungnya. Bila dahulu orang ke pasar hanya untuk membeli bahan-bahan pokok masakan, saat ini banyak yang mendatangi pasar-pasar karena estetika pasar yang menarik, sehingga datang ke pasar sebagai tujuan berwisata. Hal-hal tersebut juga ikut masuk ke dalam Kota Semarang. Salah dua pasar di Kota Semarang yang menggambarkan 'wajah' baru konsep pasar adalah Pasar Gang Baru dan Pasar Sentiling. Perbedaan mendasar dari kedua pasar ini adalah, Pasar Gang Baru merupakan pasar tradisional, sedang Pasar Sentiling adalah pasar modern. 

Pasar Gang Baru terletak di kawasan Pecinan, yang masih menjadi salah satu magnet kegiatan wisata di Kota Semarang. Pasar ini adalah salah satu yang bisa menunjukkan kalau pernyataan tentang tingkat kebersihan pasar yang begitu rendah sudah berubah. Berdasarkan artikel dari kompas.id yang ditulis oleh Winarto Herusansono (2018), Pasar Gang Baru ini merupakan pasar terbersih diantara pasar lain yang berada di kawasan Pecinan. Yang ditawarkan pasar ini adalah ciri khas nya yang menjual bahan-bahan makanan dan kuliner khas chinese, juga makanan kecil khas Semarang. Selain itu, karena sudah berdiri sejak abad ke-16, arsitektur zaman kolonial berpadu dengan etnis tionghoa masih menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar ini. Karena berdekatan dengan pasar Semawis, membuat pasar ini juga menjadi ramai kembali, terutama di malam tahun baru Imlek dan hari raya chinese lainnya. 

Lain hal dengan Pasar Sentiling yang terletak di Kota Lama. Pasar ini merupakan pasar non tradisional karena memiliki fasilitas yang tergolong nyaman dan aman, tepatnya Gedung Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Berbeda dengan Pasar Gang Baru yang memang konsep nya adalah pasar tradisional, Pasar Sentiling adalah pasar yang lebih modern dengan fokus penjualan produk yang juga berbeda. Pasar sentiling lebih memfokuskan pada pendukungan terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Produk yang berupa kerajinan tangan, fesyen, makanan dan minuman, dan hal lain yang berhubungan dengan oleh-oleh. 

Persamaan kedua pasar diatas adalah sama-sama memiliki nilai historis yang cukup tinggi. Pasar Gang Baru dibangun pada abad ke-16 oleh etnis tionghoa yang berada di Semarang ketika zaman penjajahan. Sama hal nya dengan Pasar Sentiling yang di adopsi dari kegiatan pameran bernama Tentoonstelling, yang dilaksanakan pada tahun 1914 ketika Belanda masih menduduki Indonesia. 

Pada kesimpulan nya, perkembangan budaya dan meningkatnya perhatian warga akan objek pasar, menjadikan pasar-pasar, khususnya di Kota Semarang, menjadi ikut berkembang dan bergeser fungsi. Yang pada awal nya tujuan utama pergi ke pasar adalah untuk memenuhi kebutuhan dapur, menjadi kebutuhan refreshing seperti foto-foto, ataupun hanya menikmati suasana pasar. Pasar Gang Baru menjual pesona ciri khas pasar tradisional yang menarik, sedangkan Pasar Sentiling menjual kebutuhan oleh-oleh wisata khas Semarang yang berkolaborasi dengan UMKM yang ada di Kota Semarang dengan tujuan mempromosikan dan meningkatkan daya jual dari UMKM tersebut. 

Tunggu apa lagi, mari kunjungi kedua objek wisata pasar yang menyimpan makna historis tinggi!

 

 

 

26



KONTAK KAMI