Gamelan Kampung Jawi Enggan Mati…


Sejak ada pendemi Covid-19, aktivitas di Kampung Jawi memang berkurang. Keriuhan di angkringan pinggir kali Kampung Jawi, berkurang. Akan tetapi orang-orang di kawasan itu tidak mau menyerah dengan keadaan. Kendati tidak digelar acara yang mendatangkan massa, latihan tetap digiatkan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Setelah anak-anak sekolah mengikuti pelajaran secara daring, mereka datang ke ”markas” Kampung Jawi yang tak lain adalah rumah Siswanto di Jalan Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati. Ada yang berlatih gamelan, ada yang memainkan tarian jathilan atau kuda lumping. ”Ini semata-mata demi nguri-uri budaya Jawa. Kami tidak ingin kesenian dan budaya Jawa tergerus arus modernisasi,” kata Siswanto.

Sebelum ada Covid-19, tidak hanya anak-anak di kawasan Sukorejo, Gunungpati yang berlatih di tempat itu. Orang-orang dari berbagai wilayah dipersilakan datang dan belajar bersama. Aditya Wardana, yang juga ikut membantu menggerakkan Kampung Jawi menuturkan, dulu dalam sebulan setidaknya ada 3-4 kunjungan dari sekolah, kampus. Bahkan, rombongan dari luar negeri seperti Italia, Kanada, India, Philipina, Vietnam, dari Tiongkok juga datang ke tempat tersebut

Mereka belajar budaya Jawa. ”Di sini, ada edukasi tentang kesenian. Mereka yang datang ke Kampung Jawi juga kami ajak berbaur dengan warga. Belajar memasak masakan Jawa juga. Kami mengajak warga juga terlibat,” kata Siswanto. Aditya Wardana mengatakan, sejak ada latihan dan kegiatan kesenian di Kampung Jawi, ekspresi anak muda tersalurkan secara positif. ”Tidak melulu kecanduan game. Kami ajak mereka memainkan gamelan, dolanan tradisional, dan mengarahkan anak-anak dan remaja menggunakan internet secara positif,” kata dia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *