header_id
Hadi

Hadi

Kamis, 15 Februari 2018 04:25

Imlek Celebration

Jum'at, 16 Februari 2018 pukul 09.00 - 17.00 WIB di Kelenteng Sam Poo Kong 

Senin, 22 Januari 2018 06:22

Warung Keroncong

Warung Keroncong, 31 Januari 2018 pukul 20.00 WIB di Taman Budaya Raden Saleh Semarang

Senin, 22 Januari 2018 06:19

Gebyar Keroncong

Gebyar Keroncong, 24 Januari 2018 pukul 20.00 WIB di Taman Budaya Raden Saleh

Selasa, 29 Maret 2016 15:46

Inilah Visi Misi Hebat bersama Rakyat

Visi:
"Semarang Kota Perdagangan dan Jasa yang Hebat Menuju Masyarakat Semakin Sejahtera"

Semarang sebagai kota metropolitan berwawasan lingkungan akan menjadi kota yang handal dan maju dalam perdagangan dan jasa, dengan dukungan infrastruktur yang memadai serta tetap menjadi daerah yang kondusif untuk meningkatkan kesejahteraan warganya dengan dukungan pengembangan bidang politik, keamanan, sosial, ekonomi dan budaya.

Dari definisi HEBAT dikandung pemahaman bahwa Visi tersebut ingin mewujudkan kondisi masyarakat yang semakin sejahtera dalam rangka mencapai keunggulan dan kemuliaan, serta kondisi perkotaan yang kondusif
dan modern dengan tetap memperhatikan lingkungan berkelanjutan demi kemajuan perdagangan dan jasa.

Misi:
1. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang berbudaya dan berkualitas.
2. Mewujudkan Pemerintahan yang semakin handal untuk meningkatkan pelayanan publik.
3. Mewujudkan kota metropolitan yang dinamis dan berwawasan lingkungan.
4. Memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis keunggulan lokal dan membangun iklim usaha yang kondusif.
(sumber: Dokumen Visi-Misi Hebat)

Rabu, 23 Maret 2016 03:09

Mengenal Bahasa Tutur Semarangan

Mengenal Bahasa Tutur Semarangan

Oleh: Hartono

(disampaikan pada Sarasehan Bahasa Jawa "Lestari Bahasaku Mulya Kotaku", Selasa 22 Maret 2016 di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang)

BAHASA Semarangan lebih eksis sebagai bahasa tutur ketimbang bahasa tulisan. Ini terjadi karena dalam konteks kebudayaan Jawa, Semarang bukanlah pusat kebudayaan. Meski statusnya sebagai ibu kota provinsi, posisi Semarang dalam kebudayaan Jawa sejak masa lampau selalu menjadi subordinat dari Kasunanan Surakarta. Bahkan, pada masa kerajaan Semarang hanya berstatus sebagai kadipaten (kabupaten).

Karya sastra dengan bahasa Semarangan, sejauh yang penulis ketahui, belum pernah ada. Apalagi kamus bahasa Semarangan. Namun, bahasa Semarangan tetap eksis sebagai bahasa tutur, dan berkembang secara alami. Tak ada pakar yang merumuskan kaidah-kaidahnya. Bahkan, pelajaran Bahasa Jawa di sekolah pun semuanya mengacu pada Bahasa Jawa dialek Solo dan Yogyakarta yang dianggap sebagai bahasa Jawa standar. Jika sampai sekarang Bahasa Semarangan masih bertahan hal itu semata-mata karena merupakan bahasa ibu bagi para penuturnya.

Jika dibandingkan dengan dialek Muria (Kudus, Jepara, dan Pati) serta Banyumasan dan Tegal, secara geografis daerah sebaran penutur bahasa Semarangan paling sempit. Bahkan, bahasa ini tidak tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah administratif Kota Semarang. Bahasa ini hanya tumbuh dan berkembang di wilayah perkampungan antara Banjirkanal Timur dan Banjirkanal Barat.

Ketika seorang teman bertanya mengenai apa dan bagaimana dialek Semarangan itu? Maka, saya dan orang-orang asli Semarang hanya akan menjawab, “Halah pokokmen bahasa sing nganggo ik, ok (baca ‘’ok’’, bukan oke), hek-eh, ndha, ndhes ki lho! Ngarahmu piye, jawabku bener rak kas?”.

 Daerah Sebaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III (2005:88) disebutkan bahwa, bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Selain itu, bahasa merupakan percapakan (perkataan) yang baik.

Budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat (KBBI, 2005:169). Dengan demikian, budaya dapat diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Maka, tatkala ada ahli menyebutkan bahwa bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal balik dapat dipahami bahwa pikiran di sini dimaksudkan sebagai sebuah perwujudan kebudayaan.

Setelah para ahli sepakat menyatakan bahwa bahasa adalah “alat” dalam berkomunikasi, sebagai alat tentunya ada yang menggunakan alat tersebut sehingga ia dapat dimanfaatkan (sebagai komunikasi). Dalam hal ini pengguna atau pemanfaat bahasa adalah manusia, yang selanjutnya disebut sebagai penutur. Orang atau manusia yang mendengar atau yang menjadi lawan penutur disebut dengan “lawan tutur” atau “lawan bicara”.

Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur inilah timbul beberapa perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing, sehingga lahirlah kebiasaan atau budaya. Budaya dan kebiasaan ini akan berbeda tergantung siapa dan dimana bahasa atau pengguna bahasa itu berada.

Berdasarkan uraian di atas, banyak orang beranggapan bahwa bahasa Semarangan, atau lebih tepatnya bahasa Jawa dialek semarangan, adalah bahasa yang dipakai penduduk yang tinggal di suatu daerah yang disebut Kota Semarang. Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah wilayah kultural semarangan identik dengan wilayah administratif Kota Semarang?

Kita semua tahu, bahwa wilayah administratif Kota Semarang membentang dari Pudakpayung (selatan) hingga Bandarharjo (utara), dari Mangkang (barat) hingga Genuk dan Penggaron (timur). Wilayah itu terbagi atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Namun, menurut saya, secara kultural wilayah Semarang sesungguhnya tak seluas itu.

Selain berdasarkan pengamatan pribadi sebagai pengasuh rubrik bahasa Semarangan ’’Rame  Kondhe’’ di Harian Suara Merdeka, hipotesa saya mengenai wilayah kultural Semarang didasarkan pada sejarah kota ini.

Cikal bakal Pemerintahan Kota Semarang, yang sama sekali lepas dari Kabupaten Semarang, berdiri tahun 1906 ketika Pemerintah Hindia Belanda dengan Stanblat No 120 membentuk pemerintahan gemeente (kota praja) yang dipimpin oleh seorang burgemeester (wali kota), yang berpusat di Jalan Bojong (sekarang Balai Kota).

Pada akhir 1970-an, pusat pemerintahan Kabupaten Semarang diboyong ke Ungaran dan bekas kabupaten (Kanjengan) dijadikan pertokoan dan gedung bioskop. Pada tahun 1976, Kota Semarang mengalami pemekaran wilayah dengan mendapatkan tambahan wilayah Tugu, Ngalian, Mijen, Gunungpati, Banyumanik, Tembalang, dan Genuk. Namun, hingga sekarang, sebagian besar wilayah tambahan itu secara kultural belum benar-benar menjadi Semarangan. Ini jika dilihat dari dialek yang dipakai warga asli daerah setempat.

Secara bahasa dan budaya, warga Tugu, Ngaliyan dan Mijen lebih cenderung bercorak Kendal, sebagai induk budaya mereka sebelum menjadi bagian dari wilayah Semarang. Sementara wilayah Gunungpati serta pedalaman Tembalang dan Banyumanik lebih berkiblat ke Ungaran. Hanya daerah perumahan baru di Tembalang dan Banyumanik yang telah memiliki warna ’’semarangan’’, karena ada komunitas asli Semarang yang bermukim di sana. Sedangkan kampung-kampung asli di bekas wilayah Kabupaten Demak, yang kini menjadi Kecamatan Gayamsari, Pedurungan dan Genuk lebih cenderung berwarna Demak.

Wilayah kultural asli Semarang hanyalah di antara Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur,  kemudian melebar sedikit ke barat di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Puspanjolo, Krobokan, Karangayu hingga Kalibanteng. Tiga ’’kantong’’ Semarangan juga muncul di Mrican, Kapling, dan Jatingaleh. Hal itu terjadi karena interaksi sosial antarkampung di Semarang pada masa lalu sangat bergantung pada dinamika mobilitas penduduknya.

Hingga akhir 1970-an, angkutan kota di Semarang hanya melayani trayek Johar-Kabluk, Johar-Karangayu dan Johar-Jatingaleh. Selebihnya dianggap sebagai daerah luar kota.  Karena ketika itu alat transportasi pribadi masih langka, maka mobilitas penduduk sangat bergantung transportasi umum. Hasilnya, interaksi sosial yang lebih intens hanya terjadi di titik pertemuan warga dari berbagai kampung, dan tempat itu adalah Pasar Johar dan terminal angkutan  umum, yang pada masa lalu berada di satu kawasan, yakni sekitar Alun-alun Semarang. Dari sinilah bahasa Semarangan berkembang dan mencapai bentuknya seperti sekarang ini.

Maka, makin jauh keluar dari Sungai Banjirkanal, dialek Semarangan makin memudar dan membaur dengan pengaruh bahasa daerah terdekat. Kecuali di kantong-kantong pemukiman tertentu yang mayoritas penduduknya warga asli Semarang, misalnya Perumnas Tlogosari, Krapyak, Banyumanik dan sebagian Pucanggading. Perlu diketahui sejak awal 1980-an, ribuan warga Semarang hijrah ke kawasan pinggiran karena lahan pemukiman di pusat kota makin sempit.

 

Ngoko dan Krama Madya

Beberapa mahasiswa Program Studi Sastra dan Bahasa Jawa Universitas Negeri Semarang yang melakukan penelitian mengenai kemampuan berbicara basa krama di kalangan siswa SLTP atau SLTA di Semarang, hampir semua berkesimpulan bahwa kemampuan para siswa ’’sangat rendah’’. Padahal, sebagai bagian dari bahasa Jawa, dialek Semarangan juga mengenal unggah-ungguhing basa, atau tingkat tutur. Namun, penggunaannya tidak seketat dialek Solo atau Yogyakarta, yang menjadi panduan kaidah Bahasa Jawa standar. Maka, orang pun sering menganggap Wong Semarang kuwi ora isa basa atau tidak memahami unggah-ungguhing basa.

Kesalahan paling dominan dari orang Semarang dalam berbahasa Jawa adalah ’’mbasakke awake dhewe’’ (menggunakan kata krama inggil untuk dirinya sendiri). Contoh; ’’Nyuwun pamit, kula bade kondhur’’ (mohon pamit, saya mau pulang)

Dalam kaidah Bahasa Jawa, kata kondhur (pulang) tidak pantas dipakai oleh orang pertama, sekalipun pengucapnya adalah orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Yang lebih tepat adalah kata kondhur diganti wangsul. Demikian pula untuk kata dhahar (makan), pinarak (duduk) atau sare (tidur).

Kesimpulan bahwa wong Semarang ora isa basa tidak salah jika dilihat dari konteks kaidah basa Jawa standar, yang biasanya mengacu pada dialek Solo dan Yogyakarta. Namun, jika dilihat dari kacamata dialek semarangan, maka kebiasaan orang Semarang untuk mbasakke awake dhewe bukan hal yang keliru.

Bukankah penggunaan ragam bahasa itu seringkali berdasarkan kesepakatan para penuturnya? Menurut Sudaryanto (1989: 89-111), sejak terbitnya Warna Basa karya Ki Padmasusastra tahun 1899, yang memuat ihwal unggah-ungguhing basa, konsep pembagian atau penjenisan itu hampir-hampir diikuti secara patuh oleh para ahli bahasa Jawa. Konsep pembagian itu meliputi tujuh tingkatan; Yakni Basa Ngoko, Basa Krama, Basa Madya, Krama Desa, Krama Inggil, Basa Kadhaton, dan Basa Kasar.

Dalam perkembangan selanjutnya, Prof RM Poerbatjaraka (1957), R Kartoamijoyo (1962), dan RDS Hadiwidjana (1967) menyarankan perlunya upaya baru merinci tingkat tutur bahasa Jawa yang lebih realitis.

Konon, Poerbatjaraka pernah menyimpulkan bahwa pada prinsipnya tingkat tutur bahasa Jawa itu hanya empat; Yakni Ngoko, Krama, Ngoko-krama, dan Krama-ngoko. Namun, tingkat tutur yang kini umum diajarkan di sekolah-sekolah adalah tiga tingkatan; yakni ngoko, krama madya, dan krama inggil. Ngoko masih ada tingkatannya, yakni ngoko kasar dan ngoko alus. Lalu, pada tingkatan tutur manakah bahasa semarangan?

Dalam pergaulan sehari-hari warga Semarang di kalangan yang sederajat, bahasa yang dipakai adalah dari ngoko kasar sampai ngoko alus.

Contoh: Kowe wis mangan, ndhes? (kamu sudah makan?) atau kowe wis ciak?.

Sedangkan pembicaraan dengan orang yang dianggap derajatnya lebih tinggi (orang tua kandung, orang yang lebih tua, atau atasan) lebih sering menggunakan campuran krama madya dan ngoko alus. Untuk tingkatan ini secara umum tidak ada bedanya dengan bahasa Jawa baku. Contoh; Sampeyan pun dhahar?

Selain tingkat tutur yang cenderung ngoko, bahasa Semarangan juga bisa dikenali dengan cara pengucapannya yang hampir selalu diakhiri kata ’’ik’’, ’’ok’’ dan ’’ta’’. Selain itu, juga memiliki kosa kata yang khas dan nyaris tak ditemui di daerah lain. Contoh: jembet (penakut), nggasruh (ngawur, sembrono), mberung (marah), kahath (makan), ngoce (minum), jemet (limapuluh).

Kata-kata khas semarangan itu sebagian merupakan serapan dari bahasa Cina, Arab, Koja dan Belanda. Beberapa kata diadopsi dari bahasa prokem semarangan yang muncul dari kalangan gali (preman) pada era 1970-an. Bahasa prokem semarangan itu diciptakan dengan menukar urutan aksara jawa, dengan rumusannya sebagai berikut:

 

 

Perumus bahasa prokem semarangan (siapa orangnya saya tidak tahu) membagi 20 huruf Jawa menjadi dua bagian. Sepuluh huruf pertama dibaca sesuai urutannya, sedangkan sepuluh huruf berikutnya dibaca dengan urutan terbalik.

Contoh:

-       Kata We-dho-k menjadi dhe-nyo-m  diucapkan Dhenyom.

-       Kata Ro-ko-k menjadi Go-mo-m,  diucapkan Gomom

-       Kata Ba-pa-k menjadi Ca-la-m, diucapkan Calam.

-       Kata I-bu menjadi ngi-cu

-       Kata Bo-jo menjadi Co-so

-       Kata Ma-nga-n menjadi Ka-ha-th diucapkan Kahath

 

Rumusan itu tidak diterapkan secara baku. Untuk bilangan selawe (duapuluh lima) misalnya, seharusnya menjadi jepadhe, namun yang muncul justru Jelade. Demikian pila dengan bilangan seket (limapuluh) jemet  bukan jemeya dan sepuluh (sepuluh) menjadi jelepuh bukan jelepunga. Ini karena konsonan t dan h tidak ditukar sebagaimana konsonan k ditukar m seperti contoh sebelumnya.

Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam bahasa tulisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan tanda baca. Sedangkan dalam bahasa lisan, kita tidak mengenal tanda baca. Namun, dalam bahasa lisan pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, mimik, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.

Ragam bahasa lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat dan kata yang tidak baku. Demikian pula yang terjadi dalam bahasa

Semarangan, yang memang lebih eksis sebagai bahasa lisan.

Dalam bahasa semarangan banyak kosa kata yang mengalami penyingkatan dan perubahan bunyi. Misalnya ’’orak’’ menjadi ’’rak’’, ’’marakke’’ menjadi ’’sarakke’’, ’’ngerti’’ menjadi ’’reti’’, ’’mengko ndhisik’’ menjadi ’’ngko sik’’, dan masih banyak lagi. Untuk kata ’’lan’’, ’’karo’’ (yang berarti dan), orang Semarang lebih suka memakai kata ’’kambek’’, ’’ambek’’, atau ’’mbek’’. Untuk kata ’’pancen’’ di Semarang menjadi ’’memang’’ atau ‘’cen’’, kata ’’mung siji’’ (cuma/hanya satu) di sini lebih sering memakai

’’cuman siji’’ atau ’’sak ler’’ dan ’’ji thok’’.

Akulturasi Budaya

Bahasa Semarangan adalah produk dari akulturasi budaya para penuturnya, dengan bahasa induk Bahasa Jawa. Proses akulturasi ini timbul bersamaan dengan berkembangnya Semarang sebagai kota perniagaan. Ada lima etnis yang memberikan kontribusi besar dalam proses akulturasi tersebut, yakni Jawa, Cina, Arab, Koja dan Eropa (Belanda). Etnis Eropa dulu tinggal di kawasan Jalan Bojong, Seteran, Brumbungan, Taman Beringin (Ade Irema Suryani), Pendrikan dan Candi, etnis Cina di Pecinan, etnis Arab di Petekan (Kampung Melayu), etnis Koja di sejumlah kampung sepanjang Jalan Mataram, dan etnis Jawa terkonsentrasi di kampung-kampung sepanjang Kali Semarang,  dari Randusari hingga Bandarharjo.

Etnis Jawa juga membangun kampung di sepanjang Jalan Bojong (Pemuda), dari Bedakan sampai Pandansari, lalu di Jalan Mataram dan Dr Cipto, dari Jangli sampai Mlatiharjo. Pada tahun 1950-an, kampung etnis Jawa berkembang lagi ke daerah Perbalan, Panggung, Plombokan, Puspanjolo, Krobokan dan Karangayu.

Interaksi sosial di antara kelima etnis itu terpusat di Pasar Johar dan Alun-alun. Pasar Johar menjadi titik pertemuan antaretnis setelah kelima etnis tadi hidup berkelompok di lingkungan masing-masing. Maka, jika Anda datang ke pasar terbesar di Semarang itu Anda akan berkesempatan mendengarkan dialek bahasa Semarangan yang kental.

Contoh;

‘’Cik barangmu wingi krenyeh. Rak payu blas, wanine cuman mbakbukke thok’’. (Cik, barangmu kemarin berkualitas rendah. Tidak laku dijual, Cuma bisa kembali modal)

‘’Lha sampeyan tak andhani malah ngengkel. Ambik yang ini luwih ciamik. Borong kabeh rak wis, katane sampeyan lagek sali!’’ (Anda tak kasih tahu malah ngeyel. Kalau ambil yang ini mutunya bagus. Borong aja semuanya, katanya Anda lagi banyak uang)

Selain Pasar Johar dan Alun-alun, interaksi sosial warga Semarang di masa lalu juga terjadi di tempat hiburan, khususnya gedung bioskop, yang hingga akhir 1980-an, jumlahnya mencapai 28 gedung (sekarang tinggal 3 gedung, 1 di antaranya baru berdiri). Interaksi juga terjadi di tempat keramaian lainnya seperti terminal angkutan umum Bubakan Baru dan Sendowo, gedung pertunjukkan Wayang Orang Ngesti Pandawa, WO Sriwanita, THD Jurnatan, dan THR Tegalwareng. Namun, tempat-tempat tersebut kini hilang tanpa bekas. Satu-satunya yang masih tersisa, Pasar Johar, kini juga terancam punah akibat musibah kebakaran.

Tempat bertemunya warga Semarang dari berbagai etnis kini terpusat di mal-mal. Namun, jika kita perhatikan dengan lebih teliti, percakapan yang terjadi di mal-mal lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia. Simpanglima dan Bundaran Tugumuda kini juga telah menjadi tempat berkumpulnya warga Semarang.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kedua tempat itu mampu menggantikan peran Alun-alun dan Pasar Johar sebagai pusat interaksi sosial seperti pada masa lalu? Jika tidak, maka kelestarian Bahasa Semarangan kini tinggal bergantung pada bertahan tidaknya

sebagai bahasa ibu di kampung-kampung lama. Atau barangkali bahasa Semarangan justru akan berkembang lagi dengan corak baru seiring dengan makin banyaknya pedatang yang bermukim di kota ini. (*)

*) Hartono Samidjan,  pengasuh Rubrik Bahasa Semarangan ‘’Rame Kondhe’’ di Halaman Semarang Metro Harian Suara Merdeka dan penulis buku ‘’Halah Pokokmen, Kupas Tuntas Dialek Semarangan (2013)

 

Daftar Pustaka

-        Abi Tofani. 2005. Sari Sari Basa Jawi Pepak, Tuban: Yayasan Amanah

-        Samidjan, Hartono, 2013. Halah Pokokmen, Kupas Tuntas Dialek Semarangan¸Semarang: Mimbar Media

-        Purnomo, Eko. 2005. Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Krama Dengan Metode Sosiodrama Dan Bermain Peran Pada Siswa Kelas II BSMP Negeri 21 Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi: Universitas Negeri Semarang.

-        Ratnasari, Desi. 2007. Peningkatan Keterampilan Berbicara Menggunakan Bahasa Jawa Krama dengan Metode Analisis Kesalahan Berbahasa Pada Kelas I Program Keahlian Teknik Mesin Otomotif. Skripsi: Universitas Negeri Semarang

-        Sudaryanto. 1989. Pemanfaatan Potensi Bahasa, Kumpulan Karangan Sekitar dan Tentang Satuan Bahasa Jawa yang Berdaya sentuh Indrawi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

-        Sumarsono dan Paina Partana, 2002. Sosiolinguistik, Yogyakarta: SABDA dan Pustaka Pelajar

Selasa, 21 April 2015 17:58

Bar

APPLE KARAOKE

Apple Karaoke Semarang Majapahit merupakan tempat hiburan yang menyediakan fasilitas KARAOKE dan NONTON MOVIE secara private bersama teman dekat ataupun sahabat dekat anda. Anda bisa bergantian berkaraoke atau nonton movie apabila bosan, karena Apple Karaoke Semarang Majapahit memiliki paket “Free Room Sampai Capek”. Para tamu Apple Karaoke Majapahit kebanyakan dari kalangan anak-anak muda (siang hari), karyawan/pekerja (siang dan malam) dan pengusaha atau pemilik perusahaan (malam hari). Untuk mendapatkan harga special, anda harus menjadi member dengan memiliki Apple Member, maka segeralah bergabung.

Jl. Simpang Lima Plaza, Mall Citraland No. 36 Semarang Tengah

Jl. Brigjen Sudiarto No. 567 Pedurungan

 

E – PLAZA

7-KTV Club merupakan salah satu outlet terbaru milik E-Plaza yang dibangun pada 8 Maret 2008, mengangkat suatu konsep tempat karaoke eksklusive yang mengedepankan kenyamanan dan privacy para pengunjungnya. Dengan fasilitas karaoke televisi yang memberikan sarana hiburan dilengkapi sistem karaoke lagu-lagu terbaru, serta menggunakan tekhnologi terkini dan kapasitas sound system diatas rata-rata, 7-KTV Club diharapkan mampu memanjakan para pengunjungnya. 7-KTV menyediakan 13 room dengan berbagai fasilitas sesuai kebutuhan pengunjung.

Jl. Simpang Lima Plaza Lt. II 29 Semarang Tengah

 

HAPPY PUPPY

Happy Puppy Karaoke membawa hiburan keluarga sejak tahun 1992. Dilengkapi dengan audio yang sangat baik & kualitas video, koleksi lengkap lagu-lagu, Hi-tech peralatan, sistem layar sentuh, desain kamar yang modern dan fasilitas lain untuk memberikan pengalaman tak terlupakan bernyanyi. Setiap kamar dilengkapi dengan sound system terbaik yang dibuat di Jepang, menghasilkan kualitas suara yang sangat baik. Lebih dari 60.000 lagu yang tersedia, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Korea, Jepang, India dan lagu lainnya Setiap kamar Karaoke memiliki sendiri yang unik & menarik desain interior tematik. Menyajikan berbagai makanan dan minuman untuk dinikmati selama berkaraoke.

Jl. Pandanaran No. 6 Ruko 11 - 13 Semarang  Semarang Tengah

 

INUL VIZTA

Berkaraoke di Inul Vizta merupakan sebuah pengalaman yang unik karena adanya fasilitas dan layanan berbasis IT yang baru pertama kali tersedia di Indonesia, seperti fasilitas Automatic Video Shooting, kini bukan hanya CD dan VCD tapi sudah recording to HP.

Pelanggan dapat langsung mengabadikan kemeriahan berkaraokenya secara computerized. Penerima Penghargaan Superbrands 2013-2014 untuk kategori Entertainment ini mempunyai sistem tercanggih di blantika Karaoke Internasional, karena mempunyai beberapa fitur dan fasilitas terbaik. kini bisa menonton Movie Box Office tanpa harus pergi ke bioskop, dan yang terbaru dari kami yaitu Effect dari suara anda dengan menghasilkan effect live, karaoke, studio sampai dengan Extreme "WOW Amazing". Dari recording CD, VCD sampai dengan Recording Movie dan MP3 to HP, dan kini bisa menonton Movie Box Office tanpa harus pergi ke bioskop.

  • Jl. Trilomba Juang No. 16 Semarang Selatan
  • Jl. Thamrin No. 5, THAMRIN SQUARE Lt. 2 Semarang Tengah

 

EXECUTIVE KARAOKE

Desain interior ruangan bergaya yang modern, membuat tamu merasa nyaman, Executive Club memiliki 11 room berkelas yang terdiri dari 2 Penthouse room (kapasitas 25 orang), 4 Ekslusif room (kapasitas 12 orang), dan 5 VIP room (kapasitas 7 orang). Dengan menyasar pangsa pasar kalangan menengah keatas, Executive Club menawarkan fasilitas karaoke yang berkelas, jam buka mulai pukul 19.00 sampai pukul 03.00 setiap hari, dengan Live Music setiap hari Senin – Sabtu pukul 22.00 – 01.00.

Jl. MT. Haryono 992 - 995 Java mall lt. 3 Semarang Semarang Selatan

 

MASTERPIECE FAMILY KARAOKE 

Berada di lantai 2 DP Mall, Masterpiece Family Karaoke, tempat karaoke milik Ahmad Dhani ini merupakan outlet yang ke-12. Acara soft opening berlangsung pada hari Minggu, tanggal 8 Februari 2015. Didukung dengan berbagai fasilitas modern seperti premium room, member card, memorabilia, touchscreen, WiFi dan dengan koleksi lebih dari 100.000 lagu.

DP Mall Lt.2, Jl. Pemuda Semarang

 

BLUE MOON

Jl. Singosari Raya No. 10 Semarang Selatan

 

CALIFORNIA LC

Jl. Imam Bonjol No. 121 G,H,J,K Semarang Tengah

 

DANTE

Jl. S. Parman No. 47 A Gajah Mungkur

 

ESCORT

Jl. Gajah (Komplek Mutiara Ruko Kav. 6) Gayamsari

 

HITS

Jl. Imam Bonjol No. 121 A,B,C,D Semarang Tengah

 

MARINA BEACH

Jl. Marina Raya, Ruko Royal Square No. A 15 - 16 Semarang Utara

 

NEW SIDE POCKET

Jl. MT. Haryono No. 922 - 924, SRI RATU Semarang Selatan

 

NOEMINOEM

Jl. Permata Hijau BB 41 Gajah Mungkur

 

ON ON PUB

Jl. Rinjani No. 21 Gajah Mungkur

 

PERMATA

Jl. Permata Hijau BB 23 Semarang Utara

 

PURI SEHAT

Jl. Permata Hijau AA 30 Gajah Mungkur

 

QUEST MUSIC, PUB & BAR

Jl. Plampitan No. 35 – 37 Semarang Tengah

 

RINJANI VIEW

Jl. Rinjani No. 12 Gajah Mungkur

 

RENDEZVOUS

Jl. Jagalan No. 40 Semarang Tengah

 

RINJANI PUB & BAR

Jl. Rinjani No. 16 A Semarang Gajah Mungkur

 

ROYAL

Jl. Permata Hijau Blok AA – 1 Gajah Mungkur

 

BERNYANYI

Jl. Dr. Suratmo No. 192 Semarang Barat

 

RED CARPET

Jl. Arteri Soekarno Hatta No. 156 Gayamsari

 

S2

Jl. Sisingamangaraja No. 19 C Candisari

 

X POINT

Jl. Telaga Mas Raya, Ruko A1 – 6 Semarang Utara

 

JR

Jl. Kedungmundu Raya No. 26 C Tembalang

 

SEROJA KARAOKE

 Jl. Sendowo No. A 8 Purwodinatan Semarang Tengah

 

DIVA

Jl. Sendowo No. A1 Semarang Tengah

 

MUTIARA MUSIC

Jl. Sendowo No. A2 - A3 Semarang Tengah

 

MENUR BISTRO

Jl. Ahmad Yani No. 145 Semarang Selatan

 

VIAVO

Jl. Gajahmada No. 148 Semarang Tengah

 

MR. PARTY

Jl. Dargo Indah Plaza Semarang Timur

 

 

 

 

Selasa, 21 April 2015 17:57

Wisata Belanja

Pusat oleh-oleh Pandanaran

 Jalan Pandanaran sisi barat identik dengan oleh-oleh khas Semarang. Jalan yang berada di tengah-tengah kota Semarang ini merupakan sentra jajanan oleh-oleh khas Semarang. Di tempat inilah makanan khas Semarang seperti lumpia, bandeng presto, dan wingko babat.
Selain lumpia, oleh-oleh khas Semarang yang juga banyak dijual di Jalan Pandanaran adalah bandeng presto. Bandeng presto adalah ikan bandeng berduri lunak karena dimasak menggunakan uap air bertegangan tinggi. Harga bandeng presto di Jalan Pandanaran sangat bervariasi, dari harga Rp 30.000 per ekor sampai dengan Rp 95.000 per kilogram.
Lain halnya dengan wingko babat, meski di Jalan Pandanaran banyak yang menjual namun semua penjual memakai label yang sama yakni wingko babat cap kereta api. Wingko Babat cap kereta api menawarkan berbagai rasa yang unik, seperti wingko babat rasa durian, rasa pisang, bahkan rasa coklat. Harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung besarnya ukuran dan rasa.
Jalan Pandaranan merupakan surganya para pecinta wisata belanja oleh-oleh di kota Semarang. Jalan ini selalu ramai dari pagi hingga malam dan akan bertambah ramai jika sudah memasuki akhir pekan.

 

Paragon Mall

Paragon merupakan pusat belanja terkemuka di pusat kota Semarang. Terletak di Jalan Pemuda , mall ini menjadi magnet wisatawan yang berkunjung di ibukota Jawa Tengah. Mall - membawa tema lifestyle and entertainment mall – dikelilingi hotel berbintang 5, sehingga outlet-outlet ternama dunia bersedia menghuni mall seluas 120.000 m2 ini. Fashion, shoes, culinary, Cafe, sinema, optik, bakery, restaurant, supermarket, fitness, salon kecantikan semua tersedia.

 

 

 

 

 

 Bandeng Juwana

 Bandeng Juwana – berlokasi di kawasan Jalan Pandanaran dan Jalan Pamularsih - adalah sebuah pusat oleh-oleh di Semarang yang tidak hanya menyediakan oleh-oleh khas Semarang saja, tetapi juga menyediakan aneka macam oleh-oleh khas Jawa Tengah seperti enting-enting gepuk, moaci, dan masih banyak lagi.

Produk andalan dari Bandeng Juwana adalah Bandeng Duri Lunak yang diproses dari bandeng pilihan sehingga menghasilkan suatu produk yang berkualitas. Selain itu, aneka produk olahan lainnya dengan bahan dasar bandeng seperti Otak-otak Bandeng, Bandeng Asap, Bandeng Goreng Telur dan lainnya.
Untuk menambah kenyamanan berbelanja di Bandeng Juwana Semarang, Bandeng Juwana juga membuka sebuah warung makan di lantai 2, dengan nama Warung Bandeng Juwana. Di warung ini disajikan berbagai macam masakan dengan bahan dasar bandeng juga. Adapun menu yang disajikan adalah Bandeng Tauco, Sate Bandeng, Gudeg Bandeng dan lain-lain.

Batik Jayakarta

Batik Jayakarta berdiri pada 29 September 2005 di Jl. Perintis Kemerdekaan 172, Semarang. Batik Jayakarta merupakan salah satu rintisan dari Toko Djakarta yang berlokasi di Pasar Johar, Semarang. Batik Jayakarta berupaya untuk mendukung dan ikut andil dalam melestarikan kekayaan budaya Indonesia.  Salah satu kekayaan budaya itu adalah batik. Koleksi batik yang dimiliki tidak hanya dari Semarang saja, kami sedang berupaya untuk melengkapi koleksi batik dari berbagai Kota dan Kabupaten yang berada di Jawa Tengah, seperti batik Pekalongan, Rembang, Solo, dan Yogyakarta.

Salah satu cara untuk melengkapi koleksi batik yang ada di Batik Jayakarta yaitu dengan mengenalkan batik melalui media visual dalam bentuk presentasi atau fashion show, agar mengubah cara pandang masyarakat mengenai batik yang kuno dan formal menjadi batik modern. Produk yang ditawarkan kepada pengunjung adalah produk clothing, footwear, bags, accesories, souvenir, batik fabric. Dengan motto melayani dengan ramah ditanamkan pada setiap staf dan karyawan, merupakan nilai tambah sehingga pelanggan menjadi nyaman berbelanja di Batik Jayakarta.

Kampoeng Semarang

Kampoeng Semarang yang berlokasi di Jl. Raya Kaligawe No.96 Semarang ini di bangun di atas tanah seluas 4000 m2 berjarak 3 km dari Bandara Ahmad Yani dan 2 km dari Pelabuhan Tanjung Mas. Kampoeng Semarang resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah pada bulan Mei 2012 dan menjadi “One Stop Shopping & Leisure” terkemuka di Semarang.
Satu-satunya pusat oleh-oleh dan pusat handicraft di Kota Semarang, dan salah-satu destinasi wisata di Semarang yang memiliki branding sebagai “Center of Art, Craft, and Culture in Semarang” selama setahun terakhir ini telah memberikan ruang kreasi dan pemasaran bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah – UMKM di Kota Semarang pada khususnya dan Jawa Tengah pada umumnya dengan harapan besar untuk dapat menghasilkan UMKM yang tumbuh mandiri, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
Beberapa outlet dan fasilitas disediakan oleh Kampoeng Semarang kepada pengunjung seperti:
WEBE – Outlet WeBe Bags, ASEM JAWA RESTO – Restoran, ASEM ARANG – Gallery Batik, UWOH ASEM – Gallery Dot Art, GODHONG ASEM – Pusat Oleh-oleh, KEMBANG ASEM – Pusat Souvenir, OMAH ASEM – Gallery Homeware, BLINK FOR KIDS BY WEBE – Outlet Produk Anak-anak, OMAH BATIK, KOPI PALANG, MEETING ROOM
Kampoeng Semarang bukan hanya pusat berbelanja, namun juga alternatif destinasi liburan keluarga di akhir pekan ataupun liburan sekolah.

Mal Ciputra Semarang

Mal Ciputra Semarang terletak di lokasi paling strategis, berada di kawasan Simpang Lima Semarang.  Mal - berbentuk segi enam seluas 20.000 m2 dan luas bangunan total 46.000 m2 - terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar digunakan untuk toko eceran (retail shop) dan supermaket. Lantai satu untuk departement store, toko eceran, kafe, mainan anak-anak, salon dan toko buku. Outlet ternama seperti Pasar Swalayan Gelael, Robinson Dept. Store, Toko Gunung Agung, dll.

 

 

 

 



Java Supermall Semarang

Java Mall Semarang merupakan salah satu pusat perbelanjaan berlokasi di Jl Letjen MT Haryono No 992-994 Semarang . Mal ini identik dengan event dan pameran, terutama pameran komputer dan elektronik.   banyak dikunjungi oleh masyarakat warga kota Semarang. Paling ramai di Java Mall ini jika ada event berupa pameran Komputer. Untuk alternatif pusat perbelanjaan lainnya di kota Semarang, antara lain ada di daerah Simpang Lima seperti Mall Ciputra dan Plasa Simpanglima (Matahari), atau DP Mall di jalan Pemuda, atau juga di Mall terbaru dan termegah di Kota Semarang yaitu Mall Paragon City.

 

 



Batik Semarang 16

Batik Semarang 16 terletak di  Kampung Sumberejo Meteseh, Tembalang-Semarang. Angka 16 berasal dari Surat ke-16 dalam Alquran, yaitu An-Nahl yang berarti lebah madu.
Batik  produksinya tetap ramah lingkungan. Apalagi pewarnaan batik sanggar ini menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dengan warna-warna alam dalam proses pembatikannya. Misalnya, jelawe, tingi, nila, kapur, tunjung, tegeran, tawas, secang, dan somba. Ciri khas karya Batik Semarang 16 adalah motif dan ragam hias yang mengambil artefak dan kekhasan Kota Semarang. Itu menyangkut beragam tema, dari khazanah eksotika Kota Lama Semarang, flora fauna khas, dunia kuliner, hingga kisah-kisah legendaris yang ada di setiap tempat di Semarang.

 

 

 

Omah Herborist

Omah Herborist merupakan salah satu destinasi Kota Semarang yang berlokasi di Kawasan Industri Candi Blok 5A /8, Ngalian Semarang. Wisatawan di samping dapat berbelanja produk perawatan kecantikan dengan harga murah, mereka juga dapat melihat museum mini yang memamerkan sejumlah warisan sejarah herbal dan bahan alami untuk kecantikan dan perawatan tubuh. Di luar itu, factory visit ( kunjungan proses produksi Herborist Beauty by Nature ), pemutaran film pendek, showroom yang menyediakan berbagai produk kecantikan dan perawatan tubuh berbahan alami, demo spa corner, dan beauty cafe dapat dinikmati pengunjung.


Selasa, 21 April 2015 17:56

Wisata Alam

Goa Kreo

Goa Kreo adalah sebuah goa yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu Jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Menurut cerita legenda, Sunan Kalijaga bertemu sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati. Kata "Kreo" berasal dari Mangreho yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan goa ini disebut Goa Kreo dan sejak saat itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini menjadi penunggu. 

Selain menikmati pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk serta bercanda dengan kera penunggu kawasan ini, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan waduk Jatibarang, bermain ski air, atau memancing. Objek wisata ini kurang lebih 8 km dari Tugumuda dan setiap 3 Syawal diadakan Sesaji Rewanda.

 

 

 

Tinjomoyo

Obyek wisata ini terletak di Kelurahan Sukorejo di bagian selatan Kota Semarang kurang lebih 7 km Tugumuda. Tinjomoyo merupakan hutan wisata yang dapat dimanfaatkan sebagai area combat game, camping ground, outing activity, bird watching, juga terdapat flying fox. Tempat ini sangat ideal karena merupakan perpaduan hutan, bukit, dan sungai sehingga para penggemar combat game dapat menikmati petualangan alam medan tempur, dengan standar keamanan yang tinggi untuk keselamatan pemainnya. Area ini dibuka untuk umum dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun pribadi.

 

 

 

 

Taman Wisata Margasatwa Semarang

Taman Margasatwa Wonosari Mangkang merupakan relokasi dari kebun binatang Tinjomoyo. Sebagian besar satwa yang sebelumnya berada di Tinjomoyo, telah dipindahkan di tempat ini. Tempat rekreasi ini berada di pintu masuk Kota Semarang, tepatnya di lalan Raya Semarang - Kendal KM 17. Untuk menuju lokasi ini sarana transportasi mudah karena berada di pinggir jalan raya.

 

 

 

 

 

Pantai Marina

Terletak di Jalan Yos Sudarso, sebelah utara Kota Semarang. Deburan ombaknya yang tenang tetapi berirama membuat hati merasa nyaman dan tenang selama berada di pinggir pantai, sambil memandangi keindahan pantai yang memesona. Kawasan Pantai Marina dilengkapi dengan Kolam renang, arena bermain anak-anak, gazebo, lapangan voli pantai, serta rekreasi air yaitu ski air dan speed boat. kawasan ini juga dilengkapi dengan jogging track, sehingga sangat cocok untuk berolah raga. kawasan ini dibuka mulai pukul 05.00 WIB.

 

 

 

 

Kampoeng Wisata Taman Lele

Obyek wisata ini dulu dikenal dengan Taman Lele. Di tempat ini terdapat danau buatan yang dikelilingi gazebo, sepeda air, kolam renang untuk anak, permainan anak, dan beberapa satwa piaraan, seperti ular phyton, buaya, dan berbagai jenis burung. Tempat ini cocok untuk persinggahan bagi mereka yang berkunjung ke Semarang melalui jalan darat atau jalur pantura (Semarang-Jakarta) mengingat lokasinya yang persis berada di jalur tersebut. Di tempat ini juga dilengkapi hotel dengan fasilitas AC, TV dengan harga terjangkau. Terletak di tepi Jalan Raya Tugu kurang lebih 10 km dari Tugumuda ke arah barat. tarif taman lele : hari biasa Rp. 4.000, har libur/ besar : Rp. 5.000, sepekan lebaran Rp. 6.500

 

 

 

 

Puri Maerokoco

Sebuah obyek wisata yang berada di Jalan Yos Sudarso kurang lebih 5 km dari Tugumuda, merupakan satu komplek dengan PRPP. Sebagai taman mini Jawa Tengah yang merangkum semua rumah adat – biasa disebut anjungan - dari 35 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. Di dalam rumah-rumah tersebut digelar hasil-hasil industri dan kerajinan yang diproduksi oleh masing-masing daerah. Selain menampilkan rumah-rumah adat, obyek wisata ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi air seperti, sepeda air, perahu, juga kereta bagi pengunjung. Lokasinya mudah dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

 

 

 

 

Kawasan Simpang Lima

Pusat perhatian setiap tamu yang mengunjungi Semarang adalah kawasan Simpang Lima. Tempat ini merupakan alun-alun modern yang berada di tengah-tengah persimpangan Jalan Pandanaran di sebelah barat, Jalan Ahmad Yani di sebelah timur, Jalan Gajah Mada di sebelah utara dan Jalan Pahlawan di sebelah selatan, sementara di sebelah timur laut ada Jalan KH. Ahmad Dahlan.   

Berkembangnya fungsi Simpang Lima menjadi alun-alun modern merupakan saran Presiden Soekarno yang menghendaki pengadaan alun-alun baru di Semarang sebagai ganti dari Kanjengan yaitu alun-alun lama yang kini telah berubah fungsi menjadi pasar tradisonal bernama Pasar Johar.

 

 

 

Tugumuda

Sebuah tugu terbuat dari batu hitam berbentuk lilin tegak di tengah persimpangan Jalan Sutomo, Jalan Pandanaran, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Soegiyopranoto. Tugu ini dibangun sebagai monumen untuk mengenang heroisme perjuangan warga Semarang bertempur melawan tentara penjajah Jepang dari tanggal 14-19 Oktober 1945. 

Peletakan batu pertama pembangunan Tugumuda dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Budiyono dan diresmikan oleh Presiden RI pertama Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. 

Tugu yang berbentuk lilin dengan kobaran api di atasnya memunculkan  makna semangat yang tak kunjung padam bagi para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan. Pada bagian kaki monumen terdapat relief yang menggambarkan kesengsaraan rakyat Indonesia di jaman penjajahan Jepang seperti relief pertempuran, relief penyerangan, relief korban dan relief kenangan.

 

Gardu Pandang Taman Tabanas Gombel

Gardu pandang di kawasan Semarang atas Gombel, Semarang – sekitar 8 km dari Tugumuda -  banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk melihat pemandangan Kota Semarang dari ketinggian 200 m di atas permukaan air laut. Sambil menikmati hidangan di restoran di sekitarnya, suasana malam hari kota sangat indah dilihat dari sini. Disebut Taman Tabanas karena bentuk tugunya yang menyerupai bentuk tabungan, sebagai gerakan gemar menabung. 

 

Selasa, 21 April 2015 17:55

Apartemen

Candiland Apartment  & Hotel

Investasi properti adalah strategi penciptaan investasi yang nyata dan merupakan investasi yang aman yang memberikan manfaat pendapatan rutin serta pertumbuhan modal. Candiland Apartment adalah investasi yang tepat karena beberapa alasan, yaitu lokasinya dekat pusat kota dan bisnis, Jalan Diponegoro No 24 & 38 Siranda Semarang, yang merupakan kawasan elite di Universitas Diponegoro Semarang, pemandangan yang bagus, dan harga mulai terjangkau dari Rp 300 juta, serta permintaan yang tinggi di rumah sewa dan asrama. Apartemen ini dikembangkan oleh PT Megatama Putra. Berada di daerah elite dengan perbukitan yang indah, menempati lahan seluas 1 ha yang cukup dekat untuk akses ke pusat.

CandiLand Apartment & Hotel

Marketing Gallery: Jl. Pandanaran 50 A, Semarang Jawa Tengah.

Telp.: 024-86453000

Fax: 024-86453030

Hotline: 08773 123 5000

www.candilandsemarang.com

 Sentraland Semarang

Sentraland Semarang  bertagline “The New Life Style in Town” merupakan perpaduan apartemen, gedung perkantoran, hotel / condotel, pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jalan Ki Mangunsarkoro No 36 Semarang. Untuk apartemen terdapat 354 unit dilengkapi  kolam renang, taman atap, taman bermain anak, jogging track, 475 parking lot, sistem keamanan 24 jam. Akan ada 2 management hotel/ condotel yang bergabung di sana dengan 170 kamar yang dilengkapi spa dan fitness center, meeting room, ballroom, cafe dan resto. Penghuni apartemen dan tamu hotel tentu dimanjakan dengan keberadaan pusat perbelanjaan seluas 11.584 m2 untuk department store, supermarket, special store, restaurants, entertainments.

 

 Pinnacle Condotel & Apartment

Sebuah simfoni yang sempurna dari pengusaha perhotelan dan butik, The Pinnacle membawa Anda ke dua dunia yang terbaik, 316 unit condotel mewah dan 450 unit apartemen pribadi yang digabungkan menjadi sebuah konsep lingkungan yang tenang. Apartemen seluas 2.560 m2, dan 5 tingkat tempat parkir ini, mengajak Anda untuk memasuki dunia yang hidup dengan kecanggihan dan memanjakan di apartemen dengan interior yang unik dan desain tekstur indah menyambut Anda di The Pinnacle.

Pinnacle Condotel & Apartment

Jl. Pandanaran No 18, Semarang, Central Java, Indonesia.

Telp. 0817 968 9111.

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

www.pinnaclesemarang.com

 STAR Hotel&Apartment

STAR Hotel&Apartment Semarang berada di jantung ibukota kosmopolitan Semarang, Jawa Tengah. Bagi individu mencari tempat tinggal selama perjalanan bisnis atau konvensi, hotel bintang 4 dan apartemen ini adalah pilihan utama di kota yang hidup.

Selesai pada pertengahan 2012, akomodasi bisnis memberikan layanan mewah untuk tamu dengan harga murah. Didekorasi dengan gaya kontemporer, fully-furnished, dan dihiasi selera dengan unsur-unsur yang terinspirasi Indonesia , kamar di sini menawarkan kenyamanan dan privasi, lengkap dengan fasilitas yang membuat tinggal menjadi menyenangkan. Fasilitas termasuk kolam renang di lantai atas, pusat bisnis, pusat kebugaran, restoran, dan spa. Di samping itu, hotel menyediakan akses ke segala arah di seluruh wilayah. Hanya 15 menit berkendara dari Bandara International Ahmad Yani dan Kota Lama, dan 10 menit berkendara dari Sam Poo Kong Temple dan Lawang Sewu.

STAR Hotel&Apartment

Jl. MT. Haryono No. 972, Semarang, 

Central Java, 50242, Indonesia

Telp (6224)86448888

www.starhotelsemarang.com

 Parama Graha Condominium 

Nikmati pengalaman baru dengan tinggal di lingkungan urban life di Kota Semarang bersama Parama Graha. Parama Graha Condominium adalah apartemen eksklusif dan modern yang fully-furnished, berlokasi di kawasan elit Semarang atas, hanya beberapa menit menuju jantung kota. Apartemen yang memiliki 2 pilihan, standar ( 171 m2 ) dan penthouse (352 m2) ini dilengkapi dengan kolam renang ukuran standar, peralatan fitnes, keamanan 24 jam, TV kabel, lift, dan carpark masing-masing unit.

Parama Graha Condominium

Phone: (+62) (024) 7471 571 / 7471 569 (office hours only)

HP: (+62) 818 29 7777 

Fax: (+62) (024) 7477 015 

www.paramagraha.com

 Warhol Residences Semarang

Dibangun di pusat kota tepatnya kawasan Simpang Lima, Warhol Residences Semarang merupakan apartemen mewah dengan posmo interior design yang menawan. Apartemen 20 lantai dengan 15 lantai hunian, 5 lantai parkir dan 1 lantai basemen ini berdiri di atas tanah seluas 1200 m2 ini ditawarkan pemiliknya PT Graha Satu Tiga Tujuh kepada konsumen yang kosmopolitan. Kolam renang bawah langitnya sangat menggoda untuk menikmati pemandangan Semarang atas maupun bawah.

Warhol Residences Semarang

Jl. Ahmad Yani No 137 Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

Telp. 0817 968 9111.

Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Website: www.warholresidences.com

 MG Suites Maven Hotel dan Apartment

MG Suites Maven Hotel dan Apartment menawarkan akomodasi, kuliner dan pelayanan terbaik di kota. Apatemen ini ideal untuk bisnis dan liburan karena akses yang mudah untuk menuju pusat perbelanjaan, bandara, dan stasiun kereta api. Dengan ruang tamu dan dapur di semua jenis kamar, tamu akan merasa sangat nyaman tinggal di apartemen. Sangat cocok untuk tamu yang menginap untuk bisnis, keluarga dan wisatawan yang datang ke Semarang berkat fasilitasnya berupa 6 meeting room, fitness, kolam renang, dan restoran.

MG Suites Maven Hotel& Apartment

Jl Petempen 294 Gajah Mada – Semarang

Phone : (024) 33001888 | (024) 356 6665

Fax : (024) 355 2443

Mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

www.mgsuitesmaven.com

 

 

Selasa, 21 April 2015 17:49

Wisata Warisan Budaya

Kota Lama

Area Kota Lama Semarang atau yang sering disebut Outstadt atau Little Netherland meliputi deretan gedung-gedung yang dibangun sejak zaman Belanda. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini dipengaruhi gaya arsitektur Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat ciri arsitektur bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Dari segi tata kota, wilayah ini dibuat memusat dengan gereja Blenduk  dan kantor-kantor pemerintahan sebagai pusatnya. Bagaimanapun bentuknya dan apapun fungsinya saat ini, Kota Lama merupakan aset yang berharga bila dikemas dengan baik. Sebuah bentuk nyata sejarah Semarang dan sejarah Indonesia bernuansa tempo doeloe yang luar biasa besar nilai sejarahnya.

Luas Kawasan Kota Lama lebih kurang 31 hektar. Sesuai dengan Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2003 tentang RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan) Kawasan Kota Lama berjumlah 201 bangunan  yang dinyatakan sebagai bangunan konservasi adalah 105 buah.

 

Pecinan

Di kawasan pecinan  terdapat Warung Semawis yang lokasinya di Jalan Gang Warung Kelurahan Kranggan Kecamatan Semarang Tengah. Di kawasan ini terdapat deretan warung kaki lima yang menjual aneka makanan yang dikenal paling enak di Semarang dengan nuansa oriental. Juga tersedia berbagai menu makanan seperti nasi tela, bakmi jowo, aneka masakan oriental khas gang warung, es marem, soto, aneka bubur, sate, ayam goreng. Warung Semawis buka hari Jumat, Sabtu, dan Minggu pukul 17.00 sampai dengan dini hari.

 

 

 

 

Stasiun Tawang

Stasiun Tawang dibangun pada tanggal 16 Juni 1864, di bawah komando arsitek J.P. De Bordesdan. Tempat ini merupakan pengganti Stasiun Tambak Sari milik NIS atau Jawatan Kereta Api milik pemerintahan kolonial Belanda. Dari segi arsitekturnya tergolong unik, bercirikan arsitektur Indische dengan bahan untuk elemen dinding bermotif artistik dan dipadu aneka warna, sehingga menjadikan bangunan ini sangat mengesankan.

 

 

 

 

 

Toko Oen

Toko Oen memang identik dengan kuliner Semarang tempo doeloe. Jejak nostalgia kulinernya masih dapat dinikmati di Toko Oen di Jalan Pemuda, Semarang. Bangunan tua, di sudut jalan, terkesan tua, kuno, tapi tidak renta. Ada rona kusam dan sangat kuno.  Namun Bottom of Form interior ruangan masih terawat dengan baik meski sudah berusia lebih dari 70 tahun. Sebuah piano tua, foto sang pendiri, dan aneka perabot terbuat dari kayu jati tua, tetap lestari meski waktu telah menggerusnya.  Aneka toples-toples cookies yang berukuran besar, foto-foto hitam putih jaman dahulu,  memberikan nuansa tempo dulu. Itulah nuansa nostalgia di  Toko Oen, restoran legendaris yang didirikan pada tahun 1936.

  

 

  

Lawang Sewu

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung bersejarah memiliki nilai historis sangat tinggi, berdiri tepat di pusat keramaian di jantung Kota  Semarang, Jawa Tengah. Pada masa  lalu, gedung ini  merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau Jawatan Kereta Api. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di kawasan bundaran Tugumuda yang dahulu kala disebut Wilhelminaplein. Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah masa kemerdekaan Indonesia dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Pemerintah Kota Semarang memasukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang sangat dilindungi. Kini, Lawang Sewu menjadi salah satu obyek wisata sejarah yang ramai dikunjungi turis  lokal, nasional, serta internasional.

 https://www.google.co.id/maps/place/Lawang+Sewu/@-7.0037835,110.4019066,13z/data=!4m2!3m1!1s0x0000000000000000:0x11304de4230ded0d

 

Halaman 1 dari 2