header_id
Rabu, 23 Maret 2016 03:09

Mengenal Bahasa Tutur Semarangan

Written by
Rate this item
(0 votes)

Mengenal Bahasa Tutur Semarangan

Oleh: Hartono

(disampaikan pada Sarasehan Bahasa Jawa "Lestari Bahasaku Mulya Kotaku", Selasa 22 Maret 2016 di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang)

BAHASA Semarangan lebih eksis sebagai bahasa tutur ketimbang bahasa tulisan. Ini terjadi karena dalam konteks kebudayaan Jawa, Semarang bukanlah pusat kebudayaan. Meski statusnya sebagai ibu kota provinsi, posisi Semarang dalam kebudayaan Jawa sejak masa lampau selalu menjadi subordinat dari Kasunanan Surakarta. Bahkan, pada masa kerajaan Semarang hanya berstatus sebagai kadipaten (kabupaten).

Karya sastra dengan bahasa Semarangan, sejauh yang penulis ketahui, belum pernah ada. Apalagi kamus bahasa Semarangan. Namun, bahasa Semarangan tetap eksis sebagai bahasa tutur, dan berkembang secara alami. Tak ada pakar yang merumuskan kaidah-kaidahnya. Bahkan, pelajaran Bahasa Jawa di sekolah pun semuanya mengacu pada Bahasa Jawa dialek Solo dan Yogyakarta yang dianggap sebagai bahasa Jawa standar. Jika sampai sekarang Bahasa Semarangan masih bertahan hal itu semata-mata karena merupakan bahasa ibu bagi para penuturnya.

Jika dibandingkan dengan dialek Muria (Kudus, Jepara, dan Pati) serta Banyumasan dan Tegal, secara geografis daerah sebaran penutur bahasa Semarangan paling sempit. Bahkan, bahasa ini tidak tumbuh dan berkembang di seluruh wilayah administratif Kota Semarang. Bahasa ini hanya tumbuh dan berkembang di wilayah perkampungan antara Banjirkanal Timur dan Banjirkanal Barat.

Ketika seorang teman bertanya mengenai apa dan bagaimana dialek Semarangan itu? Maka, saya dan orang-orang asli Semarang hanya akan menjawab, “Halah pokokmen bahasa sing nganggo ik, ok (baca ‘’ok’’, bukan oke), hek-eh, ndha, ndhes ki lho! Ngarahmu piye, jawabku bener rak kas?”.

 Daerah Sebaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III (2005:88) disebutkan bahwa, bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Selain itu, bahasa merupakan percapakan (perkataan) yang baik.

Budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat (KBBI, 2005:169). Dengan demikian, budaya dapat diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Maka, tatkala ada ahli menyebutkan bahwa bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal balik dapat dipahami bahwa pikiran di sini dimaksudkan sebagai sebuah perwujudan kebudayaan.

Setelah para ahli sepakat menyatakan bahwa bahasa adalah “alat” dalam berkomunikasi, sebagai alat tentunya ada yang menggunakan alat tersebut sehingga ia dapat dimanfaatkan (sebagai komunikasi). Dalam hal ini pengguna atau pemanfaat bahasa adalah manusia, yang selanjutnya disebut sebagai penutur. Orang atau manusia yang mendengar atau yang menjadi lawan penutur disebut dengan “lawan tutur” atau “lawan bicara”.

Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur inilah timbul beberapa perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing, sehingga lahirlah kebiasaan atau budaya. Budaya dan kebiasaan ini akan berbeda tergantung siapa dan dimana bahasa atau pengguna bahasa itu berada.

Berdasarkan uraian di atas, banyak orang beranggapan bahwa bahasa Semarangan, atau lebih tepatnya bahasa Jawa dialek semarangan, adalah bahasa yang dipakai penduduk yang tinggal di suatu daerah yang disebut Kota Semarang. Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah wilayah kultural semarangan identik dengan wilayah administratif Kota Semarang?

Kita semua tahu, bahwa wilayah administratif Kota Semarang membentang dari Pudakpayung (selatan) hingga Bandarharjo (utara), dari Mangkang (barat) hingga Genuk dan Penggaron (timur). Wilayah itu terbagi atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Namun, menurut saya, secara kultural wilayah Semarang sesungguhnya tak seluas itu.

Selain berdasarkan pengamatan pribadi sebagai pengasuh rubrik bahasa Semarangan ’’Rame  Kondhe’’ di Harian Suara Merdeka, hipotesa saya mengenai wilayah kultural Semarang didasarkan pada sejarah kota ini.

Cikal bakal Pemerintahan Kota Semarang, yang sama sekali lepas dari Kabupaten Semarang, berdiri tahun 1906 ketika Pemerintah Hindia Belanda dengan Stanblat No 120 membentuk pemerintahan gemeente (kota praja) yang dipimpin oleh seorang burgemeester (wali kota), yang berpusat di Jalan Bojong (sekarang Balai Kota).

Pada akhir 1970-an, pusat pemerintahan Kabupaten Semarang diboyong ke Ungaran dan bekas kabupaten (Kanjengan) dijadikan pertokoan dan gedung bioskop. Pada tahun 1976, Kota Semarang mengalami pemekaran wilayah dengan mendapatkan tambahan wilayah Tugu, Ngalian, Mijen, Gunungpati, Banyumanik, Tembalang, dan Genuk. Namun, hingga sekarang, sebagian besar wilayah tambahan itu secara kultural belum benar-benar menjadi Semarangan. Ini jika dilihat dari dialek yang dipakai warga asli daerah setempat.

Secara bahasa dan budaya, warga Tugu, Ngaliyan dan Mijen lebih cenderung bercorak Kendal, sebagai induk budaya mereka sebelum menjadi bagian dari wilayah Semarang. Sementara wilayah Gunungpati serta pedalaman Tembalang dan Banyumanik lebih berkiblat ke Ungaran. Hanya daerah perumahan baru di Tembalang dan Banyumanik yang telah memiliki warna ’’semarangan’’, karena ada komunitas asli Semarang yang bermukim di sana. Sedangkan kampung-kampung asli di bekas wilayah Kabupaten Demak, yang kini menjadi Kecamatan Gayamsari, Pedurungan dan Genuk lebih cenderung berwarna Demak.

Wilayah kultural asli Semarang hanyalah di antara Banjirkanal Barat dan Banjirkanal Timur,  kemudian melebar sedikit ke barat di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Puspanjolo, Krobokan, Karangayu hingga Kalibanteng. Tiga ’’kantong’’ Semarangan juga muncul di Mrican, Kapling, dan Jatingaleh. Hal itu terjadi karena interaksi sosial antarkampung di Semarang pada masa lalu sangat bergantung pada dinamika mobilitas penduduknya.

Hingga akhir 1970-an, angkutan kota di Semarang hanya melayani trayek Johar-Kabluk, Johar-Karangayu dan Johar-Jatingaleh. Selebihnya dianggap sebagai daerah luar kota.  Karena ketika itu alat transportasi pribadi masih langka, maka mobilitas penduduk sangat bergantung transportasi umum. Hasilnya, interaksi sosial yang lebih intens hanya terjadi di titik pertemuan warga dari berbagai kampung, dan tempat itu adalah Pasar Johar dan terminal angkutan  umum, yang pada masa lalu berada di satu kawasan, yakni sekitar Alun-alun Semarang. Dari sinilah bahasa Semarangan berkembang dan mencapai bentuknya seperti sekarang ini.

Maka, makin jauh keluar dari Sungai Banjirkanal, dialek Semarangan makin memudar dan membaur dengan pengaruh bahasa daerah terdekat. Kecuali di kantong-kantong pemukiman tertentu yang mayoritas penduduknya warga asli Semarang, misalnya Perumnas Tlogosari, Krapyak, Banyumanik dan sebagian Pucanggading. Perlu diketahui sejak awal 1980-an, ribuan warga Semarang hijrah ke kawasan pinggiran karena lahan pemukiman di pusat kota makin sempit.

 

Ngoko dan Krama Madya

Beberapa mahasiswa Program Studi Sastra dan Bahasa Jawa Universitas Negeri Semarang yang melakukan penelitian mengenai kemampuan berbicara basa krama di kalangan siswa SLTP atau SLTA di Semarang, hampir semua berkesimpulan bahwa kemampuan para siswa ’’sangat rendah’’. Padahal, sebagai bagian dari bahasa Jawa, dialek Semarangan juga mengenal unggah-ungguhing basa, atau tingkat tutur. Namun, penggunaannya tidak seketat dialek Solo atau Yogyakarta, yang menjadi panduan kaidah Bahasa Jawa standar. Maka, orang pun sering menganggap Wong Semarang kuwi ora isa basa atau tidak memahami unggah-ungguhing basa.

Kesalahan paling dominan dari orang Semarang dalam berbahasa Jawa adalah ’’mbasakke awake dhewe’’ (menggunakan kata krama inggil untuk dirinya sendiri). Contoh; ’’Nyuwun pamit, kula bade kondhur’’ (mohon pamit, saya mau pulang)

Dalam kaidah Bahasa Jawa, kata kondhur (pulang) tidak pantas dipakai oleh orang pertama, sekalipun pengucapnya adalah orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Yang lebih tepat adalah kata kondhur diganti wangsul. Demikian pula untuk kata dhahar (makan), pinarak (duduk) atau sare (tidur).

Kesimpulan bahwa wong Semarang ora isa basa tidak salah jika dilihat dari konteks kaidah basa Jawa standar, yang biasanya mengacu pada dialek Solo dan Yogyakarta. Namun, jika dilihat dari kacamata dialek semarangan, maka kebiasaan orang Semarang untuk mbasakke awake dhewe bukan hal yang keliru.

Bukankah penggunaan ragam bahasa itu seringkali berdasarkan kesepakatan para penuturnya? Menurut Sudaryanto (1989: 89-111), sejak terbitnya Warna Basa karya Ki Padmasusastra tahun 1899, yang memuat ihwal unggah-ungguhing basa, konsep pembagian atau penjenisan itu hampir-hampir diikuti secara patuh oleh para ahli bahasa Jawa. Konsep pembagian itu meliputi tujuh tingkatan; Yakni Basa Ngoko, Basa Krama, Basa Madya, Krama Desa, Krama Inggil, Basa Kadhaton, dan Basa Kasar.

Dalam perkembangan selanjutnya, Prof RM Poerbatjaraka (1957), R Kartoamijoyo (1962), dan RDS Hadiwidjana (1967) menyarankan perlunya upaya baru merinci tingkat tutur bahasa Jawa yang lebih realitis.

Konon, Poerbatjaraka pernah menyimpulkan bahwa pada prinsipnya tingkat tutur bahasa Jawa itu hanya empat; Yakni Ngoko, Krama, Ngoko-krama, dan Krama-ngoko. Namun, tingkat tutur yang kini umum diajarkan di sekolah-sekolah adalah tiga tingkatan; yakni ngoko, krama madya, dan krama inggil. Ngoko masih ada tingkatannya, yakni ngoko kasar dan ngoko alus. Lalu, pada tingkatan tutur manakah bahasa semarangan?

Dalam pergaulan sehari-hari warga Semarang di kalangan yang sederajat, bahasa yang dipakai adalah dari ngoko kasar sampai ngoko alus.

Contoh: Kowe wis mangan, ndhes? (kamu sudah makan?) atau kowe wis ciak?.

Sedangkan pembicaraan dengan orang yang dianggap derajatnya lebih tinggi (orang tua kandung, orang yang lebih tua, atau atasan) lebih sering menggunakan campuran krama madya dan ngoko alus. Untuk tingkatan ini secara umum tidak ada bedanya dengan bahasa Jawa baku. Contoh; Sampeyan pun dhahar?

Selain tingkat tutur yang cenderung ngoko, bahasa Semarangan juga bisa dikenali dengan cara pengucapannya yang hampir selalu diakhiri kata ’’ik’’, ’’ok’’ dan ’’ta’’. Selain itu, juga memiliki kosa kata yang khas dan nyaris tak ditemui di daerah lain. Contoh: jembet (penakut), nggasruh (ngawur, sembrono), mberung (marah), kahath (makan), ngoce (minum), jemet (limapuluh).

Kata-kata khas semarangan itu sebagian merupakan serapan dari bahasa Cina, Arab, Koja dan Belanda. Beberapa kata diadopsi dari bahasa prokem semarangan yang muncul dari kalangan gali (preman) pada era 1970-an. Bahasa prokem semarangan itu diciptakan dengan menukar urutan aksara jawa, dengan rumusannya sebagai berikut:

 

 

Perumus bahasa prokem semarangan (siapa orangnya saya tidak tahu) membagi 20 huruf Jawa menjadi dua bagian. Sepuluh huruf pertama dibaca sesuai urutannya, sedangkan sepuluh huruf berikutnya dibaca dengan urutan terbalik.

Contoh:

-       Kata We-dho-k menjadi dhe-nyo-m  diucapkan Dhenyom.

-       Kata Ro-ko-k menjadi Go-mo-m,  diucapkan Gomom

-       Kata Ba-pa-k menjadi Ca-la-m, diucapkan Calam.

-       Kata I-bu menjadi ngi-cu

-       Kata Bo-jo menjadi Co-so

-       Kata Ma-nga-n menjadi Ka-ha-th diucapkan Kahath

 

Rumusan itu tidak diterapkan secara baku. Untuk bilangan selawe (duapuluh lima) misalnya, seharusnya menjadi jepadhe, namun yang muncul justru Jelade. Demikian pila dengan bilangan seket (limapuluh) jemet  bukan jemeya dan sepuluh (sepuluh) menjadi jelepuh bukan jelepunga. Ini karena konsonan t dan h tidak ditukar sebagaimana konsonan k ditukar m seperti contoh sebelumnya.

Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam bahasa tulisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan tanda baca. Sedangkan dalam bahasa lisan, kita tidak mengenal tanda baca. Namun, dalam bahasa lisan pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, mimik, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.

Ragam bahasa lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat dan kata yang tidak baku. Demikian pula yang terjadi dalam bahasa

Semarangan, yang memang lebih eksis sebagai bahasa lisan.

Dalam bahasa semarangan banyak kosa kata yang mengalami penyingkatan dan perubahan bunyi. Misalnya ’’orak’’ menjadi ’’rak’’, ’’marakke’’ menjadi ’’sarakke’’, ’’ngerti’’ menjadi ’’reti’’, ’’mengko ndhisik’’ menjadi ’’ngko sik’’, dan masih banyak lagi. Untuk kata ’’lan’’, ’’karo’’ (yang berarti dan), orang Semarang lebih suka memakai kata ’’kambek’’, ’’ambek’’, atau ’’mbek’’. Untuk kata ’’pancen’’ di Semarang menjadi ’’memang’’ atau ‘’cen’’, kata ’’mung siji’’ (cuma/hanya satu) di sini lebih sering memakai

’’cuman siji’’ atau ’’sak ler’’ dan ’’ji thok’’.

Akulturasi Budaya

Bahasa Semarangan adalah produk dari akulturasi budaya para penuturnya, dengan bahasa induk Bahasa Jawa. Proses akulturasi ini timbul bersamaan dengan berkembangnya Semarang sebagai kota perniagaan. Ada lima etnis yang memberikan kontribusi besar dalam proses akulturasi tersebut, yakni Jawa, Cina, Arab, Koja dan Eropa (Belanda). Etnis Eropa dulu tinggal di kawasan Jalan Bojong, Seteran, Brumbungan, Taman Beringin (Ade Irema Suryani), Pendrikan dan Candi, etnis Cina di Pecinan, etnis Arab di Petekan (Kampung Melayu), etnis Koja di sejumlah kampung sepanjang Jalan Mataram, dan etnis Jawa terkonsentrasi di kampung-kampung sepanjang Kali Semarang,  dari Randusari hingga Bandarharjo.

Etnis Jawa juga membangun kampung di sepanjang Jalan Bojong (Pemuda), dari Bedakan sampai Pandansari, lalu di Jalan Mataram dan Dr Cipto, dari Jangli sampai Mlatiharjo. Pada tahun 1950-an, kampung etnis Jawa berkembang lagi ke daerah Perbalan, Panggung, Plombokan, Puspanjolo, Krobokan dan Karangayu.

Interaksi sosial di antara kelima etnis itu terpusat di Pasar Johar dan Alun-alun. Pasar Johar menjadi titik pertemuan antaretnis setelah kelima etnis tadi hidup berkelompok di lingkungan masing-masing. Maka, jika Anda datang ke pasar terbesar di Semarang itu Anda akan berkesempatan mendengarkan dialek bahasa Semarangan yang kental.

Contoh;

‘’Cik barangmu wingi krenyeh. Rak payu blas, wanine cuman mbakbukke thok’’. (Cik, barangmu kemarin berkualitas rendah. Tidak laku dijual, Cuma bisa kembali modal)

‘’Lha sampeyan tak andhani malah ngengkel. Ambik yang ini luwih ciamik. Borong kabeh rak wis, katane sampeyan lagek sali!’’ (Anda tak kasih tahu malah ngeyel. Kalau ambil yang ini mutunya bagus. Borong aja semuanya, katanya Anda lagi banyak uang)

Selain Pasar Johar dan Alun-alun, interaksi sosial warga Semarang di masa lalu juga terjadi di tempat hiburan, khususnya gedung bioskop, yang hingga akhir 1980-an, jumlahnya mencapai 28 gedung (sekarang tinggal 3 gedung, 1 di antaranya baru berdiri). Interaksi juga terjadi di tempat keramaian lainnya seperti terminal angkutan umum Bubakan Baru dan Sendowo, gedung pertunjukkan Wayang Orang Ngesti Pandawa, WO Sriwanita, THD Jurnatan, dan THR Tegalwareng. Namun, tempat-tempat tersebut kini hilang tanpa bekas. Satu-satunya yang masih tersisa, Pasar Johar, kini juga terancam punah akibat musibah kebakaran.

Tempat bertemunya warga Semarang dari berbagai etnis kini terpusat di mal-mal. Namun, jika kita perhatikan dengan lebih teliti, percakapan yang terjadi di mal-mal lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia. Simpanglima dan Bundaran Tugumuda kini juga telah menjadi tempat berkumpulnya warga Semarang.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kedua tempat itu mampu menggantikan peran Alun-alun dan Pasar Johar sebagai pusat interaksi sosial seperti pada masa lalu? Jika tidak, maka kelestarian Bahasa Semarangan kini tinggal bergantung pada bertahan tidaknya

sebagai bahasa ibu di kampung-kampung lama. Atau barangkali bahasa Semarangan justru akan berkembang lagi dengan corak baru seiring dengan makin banyaknya pedatang yang bermukim di kota ini. (*)

*) Hartono Samidjan,  pengasuh Rubrik Bahasa Semarangan ‘’Rame Kondhe’’ di Halaman Semarang Metro Harian Suara Merdeka dan penulis buku ‘’Halah Pokokmen, Kupas Tuntas Dialek Semarangan (2013)

 

Daftar Pustaka

-        Abi Tofani. 2005. Sari Sari Basa Jawi Pepak, Tuban: Yayasan Amanah

-        Samidjan, Hartono, 2013. Halah Pokokmen, Kupas Tuntas Dialek Semarangan¸Semarang: Mimbar Media

-        Purnomo, Eko. 2005. Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Krama Dengan Metode Sosiodrama Dan Bermain Peran Pada Siswa Kelas II BSMP Negeri 21 Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi: Universitas Negeri Semarang.

-        Ratnasari, Desi. 2007. Peningkatan Keterampilan Berbicara Menggunakan Bahasa Jawa Krama dengan Metode Analisis Kesalahan Berbahasa Pada Kelas I Program Keahlian Teknik Mesin Otomotif. Skripsi: Universitas Negeri Semarang

-        Sudaryanto. 1989. Pemanfaatan Potensi Bahasa, Kumpulan Karangan Sekitar dan Tentang Satuan Bahasa Jawa yang Berdaya sentuh Indrawi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

-        Sumarsono dan Paina Partana, 2002. Sosiolinguistik, Yogyakarta: SABDA dan Pustaka Pelajar

 

Read 2111 times Last modified on Rabu, 23 Maret 2016 03:27

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.