header_id

Seni Budaya

Rate this item
(1 Vote)

Dugderan

Kata Dugderan berasal dari kata ‘dug’ sebuah bunyi dari bedug, dan ‘der’ dari bunyi petasan (kecil) atau bunyi meriam (besar) dan ‘an’ penanda kata benda dalam tata bahasa Jawa. Dugderan adalah sebuah upacara yang menandai awal bulan ramadhan, masyarakat Semarang memiliki tradisi unik dugderan. Tradisi pasar malam ini semula adalah arak-arakan bedug yang dikawal prajurit Kadipaten Semarang tempo dulu dan menjelang diumumkannya keputusan tentang awal bulan puasa.

Tradisi ini telah dimulai sejak tahun 1881 pada masa pemerintahan Bupati Semarang, Purbaningkrat. Ritual tahunan berlangsung turun temurun di Masjid Besar Kauman, kawasan Pasar Johar, Semarang ini diawali dengan arak-arakan tetabuhan bedug dikawal prajurit Kadipaten Semarang tempo dulu. Sekarang pun tetap dipertahankan keberadaannya dengan kondisi yang berbeda.

 

 

 Warak Ngendhog

Kata "warak" berasal dari bahasa arab, "wara’I” yang berarti suci. Dan ngendok dari bahasa Jawa yang berarti bertelur. Disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara filosofis, warak ngendog dapat diartikan barangsiapa yang menjaga kesucian di bulan Ramadhan, akan menerima pahala di hari lebaran. Warak Ngendhog adalah mainan khas Kota Semarang yang muncul sekali dan hanya hadir di perayaan tradisi dugderan. Mainan ini berwujud makhluk rekaan yang merupakan gabungan beberapa binatang yang merupakan simbol persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang: Cina, Arab dan Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga (Cina), tubuhnya layaknya buraq (Arab), dan empat kakinya menyerupai kaki kambing (Jawa).

Tidak jelas asal-usul Warak Ngendog. Binatang rekaan ini hanyalah mainan dalam bentuk patung atau boneka celengan yang terbuat dari gerabah. Siapa yang menginspirasi pembuatannya pun tak ada yang tahu. Yang pasti sejak dugderan digelar, sejumlah pedagang menggelar mainan ini. Dalam setiap penjualan, penjual menaruh telur ayam matang di bawahnya. Telur itu turut serta dijual bersama waraknya.

 

 Semarang Night Carnival

Semarang Night Carnival biasa disingkat SNC adalah karnaval yang dikemas apik dan unik yang dilaksanakan oleh para remaja dengan pakaian yang mewah dilaksanakan pada malam hari dengan gemerlap lampu dan hiasan lampion. Pada tahun 2015 dilaksanakan pada tanggal 3 Mei  dengan rute Kawasan Kota Lama hingga Balaikota, Jalan Pemuda Semarang.

Tema ‘Semarak Semarang’ menjadi rangkuman lima etnis defile pawai sesuai etnis budaya yang ada di Semarang. Kelima etnis defile tersebut adalah Jawa, Melayu, Cina, Timur Tengah, dan Belanda. Meski berbeda etnis namun setiap kostum yang ditampilkan diwajibkan memiliki unsur Semarang, seperti kain batik Semarang, serta wajib menggunakan bahanbahan atau properti ramah lingkungan yang terbuat dari bambu. Defile diawali dengan atraksi drumband yang memukau dan barongsai yang terpadu secara kompak juga sebuah tarian dari salah satu peserta defile etnis Jawa yang sangat menghibur. Selanjutnya satu per satu peserta defile etnis pertama, yakni Jawa, muncul. Setiap kelompok etnis menampilkan tarian di hadapan penonton sebelum melakukan defile menuju balaikota. Ciri khas masing-masing kelompok sangat terlihat mulai dari kostum hingga musik yang mengiringinya, seperti defile etnis Belanda yang memainkan lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng. Defile etnis Belanda juga memiliki keunikan dengan mayoritas peserta yang menggunakan payung sebagai bagian dari kostum mereka.

 

 Pertunjukan Wayang Kulit

Kata ‘wayang’ mendapat penafsiran yang berbeda dari berbagai kalangan. Dalam bahasa Jawa wayang yang berarti bayangan, atau yang dalam bahasa Indonesia baku adalah bayang. Hipotesis bahwa wayang berasal dari kata  ‘bayang’ ini terbukti bahwa para penonton dapat menyaksikan pertunjukan wayang dengan hanya melihat bayangan yang digerakkan oleh para dalang yang merangkap tugasnya sebagai narator. Dalang sendiri merupakan sebuah singkatan dari kata-kata ngudhal piwulang, dimana ngudhal berarti menyebar luaskan atau membuka dan piwulang berarti pendidikan atau ilmu. Hal ini menegaskan posisi dalang sebagai orang yang memiliki ilmu lebih dan membagikannya kepada para penonton pertunjukkan wayang. Dalam bahasa Cina ‘wayang’ berasal dari kata “Ma Hyang”, artinya berjalan menuju yang maha tinggi (disini bisa diartikan sebagai roh, Tuhan, ataupun Dewa).

Pemerintah Kota Semarang mengagendakan rutin pertunjukan wayang kulit dengan menghadirkan para dalang lokal dan nasional. Pergelaran itu disebar dan digilir ke-16 kecamatan. Ada pula pergelaran wayang kulit Jumat Kliwon, dan sedekah bumi di beberapa kelurahan.

 

 Wayang Orang

Wayang orang disebut juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa) adalah wayang yang dimainkan dengan menggunakan orang sebagai tokoh dalam cerita wayang tersebut. Wayang orang diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731. Sesuai dengan sebutannya, pertunjukan ini menampilkan manusia-manusia sebagai wayang tersebut. Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang ini diubah/dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan. Pertunjukan wayang orang yang masih ada saat ini di kota Semarang, bertempat di  Taman Budaya Raden Saleh Semarang.

 

 

 

 Wayang Potehi

Potehi berasal dari kata pou 布 (kain), te 袋 (kantong) dan hi 戯 (wayang).  Wayang potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang berasal dari Tiongkok bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah Nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional Indonesia. Wayang Potehi adalah wayangboneka yang terbuat dari kain. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain. Kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun dan berasal dari Tiongkok. Di Semarang pertunjukan wayang ini dapat dijumpai di Pecinan, terutama  pada saat pasar Semawis.

 

 

 

 

 Ketoprak

Seni pertunjukan ketoprak mirip dengan wayang orang. Hanya berbeda tokoh dan tema yang dimainkan. Kata ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Beberapa tahun terakhir ini, muncul sebuah genre baru, seperti Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi. Dalam pentasan jenis ini, banyak dimasukkan unsur humor. Secara berkala Pemerintah dan masyarakat Kota Semarang menggelar seni ini sebagai bagian dari konservasi seni budaya.

 

 

 

 Pandanaran Art Festival

Bagi seluruh masyarakat Semarang, Pandanaran Art Festival merupakan ajang kegiatan yang mulai diperhitungkan dalam hal berekspresi bagi seniman maupun kesenian dan hiburan. 

Kegiatan seni budaya ini terbagi ke dalam empat zona yang terdiri dari zona art, zona dolanan, Zona Kuliner Serta Zona Jualan Yang Terdapat Sejumlah 100 Stan Yang Akan Berisi Ragam Kuliner, hasil kerajinan dan berbagai macam produk UKM. Dari kegiatan ini diharapkan masyarakat akan tahu bahwa terdapat campuran kebudayaan yang unik dan festival ini dapat menggugah seluruh khalayak untuk hadir menikmati aneka kuliner, kerajinan dan pertunjukan seni asal kota Semarang.

 

 

 

Simponi Kota Lama

Untuk menggugah kecintaan warga Kota Semarang akan wisata warisan budaya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang mempersembahkan  Simponi Kota Lama, simponi musik bertajuk Rockkota Lama. Bertempat di Titik Nol Kota Semarang (depan Kantor Pos Johar), yang masih satu kawasan dengan Kota Lama Semarang, Simponi Kota Lama dimeriahkan dengan Video Mapping Show, New Season Orchestra, Cabaret Dance dengan bintang tamu rock nasional seperti Ahmad Albar & Ian Antono dari grup God Bless.  

 

 

 

 

 

 Festival Kota Lama

Masih bertempat yang sama dengan Simponi Kota Lama, Festival Kota Lama Semarang bertajuk Pasar Malam Sentiling.  Acara yang diharapkan bisa mengerakkan kawasan Kota lama ini terasa istimewa dengan hadirnya peserta dari dalam dan luar negeri. Event tersebut juga sebagai peringatan bersejarah Kota Lama. Berbagai  tonggak kelahiran sejarah dan budaya penting di Kota Lama Semarang, salah satunya adalah “Semarang, Dutch East Indies – Koloniale Tentoonstelling 1914, yang merupakan salah satu dari 10 World Expo terbesar yang digelar di dunia dalam dekade 1910 – 1920.

Event dalam festival itu antara lain grafik historis, yaitu informasi tentang nilai dan manfaat Semarang sebagai salah satu titik penting di dunia pada akhir abad 19 dan awal abad 20, 

pasar malam, berisi aneka kekhasan kebudayaan Semarang tempo doeloe; seperti kuliner, pakaian, kendaraan koeno, dan berbagai kesenian, dan Musik Tempo Doeloe dan Kini, antara lain oleh Nita Aartsen yang akan menyajikan kolaborasi jazz & kendang sunda, Grup musik yang ikut memeriahkan seperti Jazzngisorringin dan rekan, Gambang Semarang dan rekan, Keroncong Karimoeni dan rekan, Gamelan Supra dan rekan.

 

 Loenpia Jazz

Sebuah komunitas jazz asal Semarang memotori festival jazz tahunan “ Loenpia Jazz 2015”. Lewat tagline “Aku Ngejazz Margo Kowe”, Loenpia Jazz 2015 akan diselenggarakan di Puri Maerakaca, yang merupakan salah satu dari beberapa ikon di kota Lumpia tersebut. 

Pemilihan tagline event ini didasari oleh kisah tersebut diatas, yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “Aku Ngejazz Karena Kamu”. Dapat juga diartikan secara luas bahwa Loenpia Jazz dipersembahkan dengan tulus oleh Komunitas Jazz Ngisoringin untuk Kota dan seluruh warga Semarang. Festival ini akan dilangsungkan 7 Juni 2015  mulai pukul 12.00 WIB hingga malam hari dengan mengandalkan 4 buah stage yang tersebar di lokasi tersebut untuk menampilkan beragam musisi jazz nasional ataupun lokal. Dari festival ini akan dipadukan antara musik jazz dan kuliner khas Semarang. Ini merupakan sebuah cara lain dari pihak penyelenggara untuk memberi suasana segar yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Beragam sajian kuliner khas Semarang akan ditempatkan ditengah kawasan festival jazz tersebut. Sehingga dapat menjadi pojok alternatif pilihan tersendiri bagi para penikmat jazz yang hadir.

 

 Pasar Senggol

Hotel Grand Candi Semarang menerapkan konsep tahunan secara reguler bernama Pasar Senggol untuk menarik tamu hotel. Pasar Senggol adalah upaya bagaimana tradisi atau segala sesuatu yang otentik dari Semarang tidak hilang. Misalnya wisata kuliner khas Semarang pasti ada,  juga menyuguhkan wisata kuliner, melainkan adat tradisional. Adat ‘manten’ atau adat pengantin Semarang yang asli itu seperti apa pernah dipamerkannya. Tradisi basahan milik Semarang penting dijadikan pertunjukan untuk membedakan dengan Yogyakarta dan Solo. Padahal, adat dan tradisi pengantin Semarang pasti memiliki ciri khas sendiri dan berbeda dari daerah lain. Semarang yang asal-usulnya akulturasi Jawa, Cina, dan Arab, mempengaruhi budaya mantenan, yakni ketika pertemuan antara pengantin laki-laki dan perempuannya diiringi dengan rebana dan yang menyanyikan komunitas Arab di Semarang. 

 

 

 

Nganten Semarangan

Tradisi nganten Semarang unik, berbeda dengan adat daerah terdekat sekalipun, yakni  Solo, dan Yogyakarta. Perbedaan tersebut antara lain pengantin pria tidak menggunakan blankon melainkan surban. Lalu, pakaiannya juga ada adat Tiongkok, serta Jawa, sebuah penggambaran tentang akulturasi kebudayaan. Ritual Nganten Semarang dimasukkan berbagai unsur Jawa mulai dari ruwatan, tumpengan, midodareni, ijab, bleketepe, dan berbagai upacara pelengkap nganten Semarang. Karena khasanah pengantin yang unik inilah Pemerintah Kota Semarang bersama masyarakat kotanya terus melestarikannya agar terus dipelihara dari generasi ke generasi.

 

 

  

 

Gambang Semarang

[empat penari kian kemari jalan berlenggang, aduh…

Langkah gayanya menurut suara irama gambang

Sambil bernyanyi, jongkok berdiri kaki melintang, aduh…

Sungguh jenaka tari merekatari berdendang]

Itulah sepenggal lirik Lagu Gambang Semarang merupakan pembauran antara dua etnis, yaitu budaya Cina dan Jawa. Gambang Semarang telah memiliki nilai historis sehingga lazim dilestarikan sebagai suatu karya seni tradisi kota Semarang yang mengandung nilai estetika dan nilai–nilai simbolik tradisional.  Gambang Semarang mencakup berbagai aspek seni yaitu seni musik, seni tari, vokal dan seni lawak. Sedangkan macam alat-alat Musik Gambang Semarang terdiri atas kendang (jawa barat), bonang, kempul, suling, kecrek, gambang, sukong / siter,  kanghayan, balungan (saron, demung ). Tari Gambang Semarang menggambarkan ekspresi gembira empat orang penari di suatu malam saat mereka berkumpul, berdendang dan menari bersama. Gerak tari yang penuh vitalitas dan gairah tanpa disertai emosi yang berlebihan adalah sesuai dengan gambaran masyarakat kota Semarang. Goyangan pinggul dan putaran pantat yang mengalun bila dihayati bagaikan riak gelombang air laut yang menghiasi garis pantai kota Semarang. Unsur gerak tari Jawa pesisiran yang lugas, dinamis dan mengalir membuat tari Gambang Semarang menjadi indah.

 

Sesaji Rewanda

Ritual Sesaji Rewanda adalah ritual wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini diawali dengan arak-arak yang mengusung empat gunungan dari Kampung Kandri ke Goa Kreo. Peserta arak-arakan adalah warga Desa Kandri,  di barisan terdepan, empat orang dengan riasan dan kostum monyet warna merah, putih, hitam, dan kuning. Barisan selanjutnya adalah replika batang kayu jati yang konon diambil oleh Sunan Kalijaga. Baru kemudian barisan gunungan dan para penari.  Ritual arak-arakan dengan mengusung replika batang kayu jati tersebut merupakan bagian dari napak tilas Sunan Kalijaga saat ke Goa Kreo yang dahulu merupakan kawasan hutan jati. Sunan Kalijaga mencari batang kayu jati pilihan untuk mendirikan Masjid Agung di Demak. Ritual sesaji ini juga untuk memberi makan para monyet. Ini bentuk upaya warga untuk menjaga keseimbangan alam dan hewan di kawasan Kreo. Para monyet itu konon juga membantu Sunan Kalijaga menggulirkan batang kayu jati supaya bisa hanyut ke Sungai Kreo untuk dibawa ke Demak.

 

 

Peringatan Laksamana Cheng Ho

Kisah Laksamana Cheng Ho bagi warga Semarang seolah tidak ada habisnya. Kenangan akan hadirnya Cheng Ho sampai saat ini masih dapat dirasakan di saat Anda berkunjung ke Klenteng yang terletak di kawasan Simongan, Semarang Barat. Klenteng ini lebih dikenal  dengan nama Klenteng Sam Poo Kong atau Klenteng Gedong Batu. Bangunannya seluas 1.020 meter persegi dan didominasi warna merah. Menurut cerita, saat Laksamana Cheng Ho berlayar melewati Laut Jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit yaitu Wang Jinghong atau nama lainnya Dampo Awang atau Kiai Jurumudi Dampo Awang. Cheng Ho memerintahkan membuang sauh, kemudian merapat ke pantai utara Semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi Klenteng. Bangunan itu sekarang berada di tengah kota Semarang diakibatkan Pantai Utara Jawa selalu mangalami pendangkalan karena sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas ke arah utara.

Setiap tanggal 29 Lak Gwee penanggalan Tionghoa, di tempat ini diadakan upacara ritual memperingati kedatangan Cheng Ho. Diawali pawai dari Klenteng Tay Kak Sie Gang Lombok menuju Klenteng Sam Poo Kong. 

 

Barongsai 

Kesenian barongsai (tarian singa) di Kota Semarang berkembang pesat. Komunitas Tionghoa selalu mempertontonkan kehebatannya. Barongsai adalah tarian tradisional China dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. 

Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Secara tradisional, orang China menggunakan barongsai sebagai simbol pembawa kesuksesan dan keberuntungan, digunakan pada acara-acara perayaan seperti Tahun Baru Imlek atau acara seremonial seperti pembukaan tempat usaha baru. Barongsai juga dipercaya dapat “membersihkan” suatu tempat dari hal-hal negatif. Dalam Feng Shui, barongsai memiliki beberapa arti yang dapat dapat membuat tempat anda menjadi lebih bagus karena dapat menghilangkan energi negatif,  mengusir roh halus yang tidak baik, dan  membawa keberuntungan. 

 

Liong

Liong (tarian naga,舞龙/ 舞龍; wǔ lóng) atau adalah suatu pertunjukan dan tarian tradisional dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa. Seperti juga tari singa atau barongsai, tarian ini sering tampil pada waktu perayaan-perayaan tertentu. Orang Tionghoa sering menggunakan istilah 'keturunan naga' sebagai suatu simbol identitas etnis. 

Naga dipercaya bisa membawa keberuntungan untuk masyarakat karena kekuatan, martabat, kesuburan, kebijaksanaan dan keberuntungan yang dimilikinya. Penampilan naga terlihat menakutkan dan gagah berani, namun ia tetap memiliki watak yang penuh kebajikan. Hal-hal inilah yang pada akhirnya menjadikannya lambang lencana untuk mewakili kekuasaan kekaisaran.

Dalam tarian ini, satu regu orang Tionghoa memainkan naga-nagaan yang diusung dengan belasan tongkat. Penari terdepan mengangkat, menganggukkan, menyorongkan dan mengibas-kibaskan kepala naga-nagaan tersebut yang merupakan bagian dari gerakan tarian yang diarahkan oleh salah seorang penari. Terkadang bahkan kepala naga ini bisa mengeluarkan asap dengan menggunakan peralatan pyrotechnic.

 

Festival Kaligarang

Kaligarang adalah nama sungai yang membelah Kota Semarang sisi barat. Kaligarang sering diidentikan dengan Kanal Banjir Barat. Di sebagian bantaran ini setiap tahun diselenggarakan festival. Bertepatan dengan Hari Air sedunia, Pemerintah Kota Semarang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar Festival Kaligarang yang dimeriahkan dengan penyalaan lampion secara serentak. Setiap pengunjung yang datang dapat turut serta dalam pelepasan lampion ini. Di tempat itu pula diselenggarakan pameran Produk UMKM se-Kota Semarang. Pengunjung yang hadir juga akan dihibur dengan pertunjukan musik, lawak, kuliner, dan lain-lain. Acara ini dapat memberikan pesan moral kepada warga masyarakat akan pentingnya pemeliharaan sumber daya air bagi pariwisata.  

 

Semarang Great Sale

Semarang Great Sale, sering disingkat Semargres, merupakan agenda Kota Semarang dalam ajang berpromosi dan menarik wisatawan berkunjung. Agenda ini diselenggarakan selama 1 bulan penuh di pertengahan April sampai dengan pertengahan Mei.  Semargres memberikan diskon  banyak hal seperti pada wisata belanja, kuliner, produk kerajinan maupun fasilitas hiburan yang ada di. Semua pihak, baik pelaku pariwisata maupun pelaku usaha, mulai usaha perhotelan, mal, hingga pedagang kaki lima (PKL) terlibat untuk memeriahkannya. Berbagai pameran pun digelar, seperti REI Expo, Apkomindo Computer Expo, Tourism and Investment Expo, Semarang Industry Expo. Diharapkan dengan adanya Semarang Great Sale (Semargres) ini dapat mempromosikan dan mengangkat potensi wisata Kota Semarang baik dari dalam maupun luar negeri serta menggairahkan perekonomian dan perdagangan Kota Semarang. 

 

Semarjawi

Semarjawi merupakan singkatan Semarang Jalan-jalan Wisata. Jalan-jalan wisata dlakukan dengan armada bustram, bus 2 tingkat dengan bagian atas yang terbuka. Saat ini baru 1 unit bus diberi nama Semarjawi 01. Bus pariwisata bertingkat ini dipersembahkan oleh PT Telekomunikasi Selular kepada warga Kota Semarang untuk meningkatkan kunjungan pariwisata di Kota Semarang. Sehari-hari bus ini dikelola oleh Lembaga Swadaya Masyarakat ERTIM Indonesia yang berkedudukan di Semarang yang juga bertujuan untuk memberikan pendidikan mengenai sejarah Kota Semarang kepada penumpang bus ini. Bus pariwisata yang beroperasi di Kota Lama Semarang ini memiliki desain yang unik menyerupai sebuah tram di Eropa. Bus ini memiliki panjang 7,2 m; lebar 1,3 m; dan tinggi 3,7m, berkapasitas penumpang dari 25 sampai 40 orang. Jam operasional adalah Selasa - Jumat (15.00-21.00) dan Sabtu - Minggu (07.00-21.00). Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi 0822-2554-6763 (hanya melayani telepon saat jam operasional) atau www.semarjawi.com.

 

Kirab Bende Nangkasawit

Setiap tahunnya - yaitu pada hari Kamis Wage di bulan Rajab - Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang menyelenggarakan  kirab pusaka yang berwujud bende. Bende – sejenis alat gamelan - merupakan peninggalan Syeh Hasan Munadi, seorang murid dari Sunan Kalijogo yang menyebarkan ajaran Islam pada masa itu melalui kesenian karawitan di wilayah Kecamatan Gunungpati.

Sebelum diarak keliling kampung, pusaka tersebut dijamasi dengan air dari sembilan mata air yang ada di wilayah tersebut, kemudian diarak keliling kampung diikuti berbagai kesenian masa lalu yang masih dipertahankan, seperti jaranan, warag ngendog, Tari sigolo-golo serta gunungan berupa hasil pertanian. Kirab ini merupakan acara puncak dari sejumlah acara yang sudah diselenggarakan seperti festival pohon, trabas dan doa bersama di pemakaman desa. Setiap Rukun Tetangga (RT), karang taruna dan sekolah yang ada di kelurahan tersebut menyiapkan kesenian untuk diikutkan dalam arak-arakan. Para anak-anak dan pemuda desa juga tidak mau kalah dalam acara tersebut, mereka membuat replika kartun, robot dan helikopter agar gelaran tersebut lebih meriah. Di akhir acara, gunungan berupa hasil pertanian tersebut juga menjadi rebutan sebagai wujud berkah dari sang pencipta. 

 

Denok Kenang Semarang

Kata ‘denok’ merupakan panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa Semarangan. sedangkan ‘kenang’ adalah sebutan untuk anak laki-laki. Pemilihan Denok Kenang Semarang adalah agenda rutin tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Semarang untuk memilih pasangan yang akan menjadi duta wisata Kota Semarang. Melalui persyaratan administratif dan tes inteligensia, kepribadian, dan fotogenik, Denok Kenang Semarang terpilih setiap tahunnya akan dilibatkan dalam setiap tugas yang berkenaan dengan promosi pariwisata Kota Semarang, sekaligus wakil Kota dalam Pemilihan Duta Wisata di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

 

Batik Semarangan

Sebagai sebuah wilayah, memiliki batik dengan ciri khas tersendiri sangatlah membanggakan. Semarang contohnya. Kota ini memiliki batik bermotif perpaduan antara garis, bentuk dan isen menjadi satu kesatuan yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga dengan corak batik atau pola batik. Motif batik Semarangan identik dengan icon  dan naturalis. Ikon kota Semarang yang dijadikan motif antara lain Ngarak Warak, Laksamana Cheng Ho, Lawang Sewu, Warak Ngendog, Gambang Semarangan, Blekok Srondol, Tugu Muda, Gereja Blenduk, Asem Arang. Sedangkan naturalis seperti ikan, kupu-kupu, bunga, pohon, kombinasi bukit dan bunga mempunyai makna karakter masyarakat pesisiran yang bersifat lebih terbuka dan eskpresionis.  

 

Ruwatan

Ruwatan merupakan tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa atau kesalahan manusia yang diperkirakan bisa berdampak kesialan di dalam hidupnya. Tradisi ritual ini hingga kini masih dilestarikan dengan cara menggelar wayang kulit yang bertemakan atau lakon Murwakala. Dalam lakon tersebut diceritakan inti persoalan penyucian jiwa-raga manusia agar menjadi suci kembali.  Kata murwakala atau  purwakala berasal dari kata ‘purwa’  yaitu asal-muasal manusia, dan kata ‘kala’ berarti waktu. Meruwat berarti mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema atau cerita Murwakala.

 

Gebyar Keroncong

Acara Gebyar Keroncong secara rutin digelar oleh Persatuan Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI ) di Museum Ranggawarsita Semarang. Gebyar Keroncong HAMKRI ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih jauh lagi tentang budaya jaman dulu terhadap generasi muda agar tidak punah di generasi selanjutnya. Selain itu untuk mempererat tali persaudaraan komunitas-komunitas yang ada di Semarang. Dulu musik keroncong identik dengan lagu yang mendayu sendu. Kini semua lagu, baik lagu Jawa, Indonesia, pop, dangdut, barat, mandarin pun diaransement dan pemilihan lagunya disesuaikan dengan lagu-lagu keroncong  modern yang sedang popular sekarang ini. Selain dalam bentuk pertunjukan, Gebyar Keroncong juga sudah mulai dilombakan di tingkat Kota Semarang.

 

Sobokartti

Kata sobokartti berasal dari kata ‘sabhā’  yang bermakna  tempat berkumpul, bertemu, pertemuan, perhimpunan, majelis, dan kartti dari kata ‘kīrti’ yang berarti   jasa,  amal, atau perbuatan baik. Sobokartti adalah sebuah bangunan bersejarah untuk berkesenian yang terletakdi Jalan Dr Cipto 31-33 Semarang. Karsten, sang perancang,  berhasil memadukan konsep pertunjukan Jawa yang biasa digelar di pendopo dengan konsep gedung teater Barat. Sampai saat ini gedung itu masih aktif sebagai wadah untuk berlatih seni tari, pedalangan, karawitan, dan teater. Pemerintah Kota Semarang menetapkan Bangunan Cagar Budaya yang harus dilestarikan.

  

Read 1052 times Last modified on Senin, 22 Juni 2015 00:37

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Objek Wisata di Kota Semarang

Destinasi

Kesenian dan Kebudayaan di Kota Semarang

Seni dan Budaya

Akomodasi pendukung pariwisata di Semarang

Akomodasi

Sejarah, Geografis, Demografis, Fasilitas Publik

Tentang Semarang