Obrol Santai Seputar Wisata, Strategi dan Kegiatan Pariwisata. Pemkot Semarang Kenalkan Aplikasi Lunpia

Dalam rangka menggenjot dan menggairahkan kembali pariwisata Kota Semarang akibat  pandemi virus corona yang sudah terjadi beberapa bulan belakangan ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang bersama General Manager Hotel Ciputra Semarang Ngobrol Santai di lobby hotel Ciputra Semarang membahas apa saja strategi Disbudpar Kota Semarang dan bagaimana strategi pelaku wisata dalam hal ini dari segi Perhotelan pada Senin (3/8/2020).

Sejak terbitnya Peraturan Walikota No.40 pada tanggal 22 Juni 2020 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat dan dibukanya kembali sektor pariwisata dan tempat hiburan di Kota Semarang ada beberapa strategi dan kegiatan dari Disbudpar selama menghadapi masa pandemi yang terjadi sejak bulan Maret 2020.

Kepala Disbudpar, Indriyasari mengatakan “strategi kita ubah semua, mulai di awal kita melakukan tanggap darurat terlebih dulu. Kita data para pekerja yang terdampak, tidak  hanya pekerja dari industri pariwisata tetapi juga para pelaku seni dan budaya, kita data dan berikan bantuan. Setelah itu kita mulai menginjak ke strategi jangka menengah, apa saja yang harus kita siapkan nanti seandainya sektor pariwisata dibuka kembali”.

“Kita melakukan simulasi, pembukaan kembali tentunya dengan sejumlah persyaratan yang harus atau wajib dipenuhi oleh pengelola maupun pengunjung yang datang ke tempat wisata atau hiburan”, tambahnya.

“Dan alhamdulillah kalau sektor pariwisata sudah biasa berinovasi, jadi harus lincah, misalkan kita tidak bisa sama melakukan kegiatan dari satu waktu kemudian diulang lagi itu kita tidak, tapi kita terus melakukan inovasi-inovasi tentunya dengan sejumlah persyaratan dan ketentuan protokol kesehatan”, kata Indriyasari.

Dengan inovasi-inovasi yang terus dilakukan Pemerintah Kota Semarang dalam menghadapi pandemi inilah Kota Semarang berhasil menuai beberapa penghargaan atas prestasi tersebut diantaranya Juara Kota Terbersih se-ASEAN, juara I kategori wisata dan juara III kategori perhotelan serta disusul beberapa juara kategori pasar dan tranportasi dalam lomba inovasi daerah menuju tatanan baru.

“ini menunjukkan bahwa Kota Semarang siap menerima tamu yang akan berkunjung ke Kota Semarang”.

Dampak di Segi Perhotelan
General Manager hotel Ciputra Jeffry Febriyanto mengatakan, “sejak bulan maret 2020  penurunan okupansi sebesar 80% dialami hotel kemudian berangsur sampai dengan bulan April dan Mei, dimana itu sangat berdampak sekali terutama semakin meningkatnya  eskalasi beberapa kejadian di Indonesia terutama Jakarta dan pulau jawa”. Kami melakukan beberapa langkah dan strategi untuk menghadapi masa pandemi agar tetap berjalan,”kita hanya membuka satu sampai dua lantai karena informasi yang berkembang saat itu sangat banyak sekali, kemudian kita berusaha meminimalkan jumlah kehadiran karyawan serta  melakukan pembatasan kepada pengunjung yang datang”.
“Tentunya tanpa dibatasi juga sudah semakin menurun. Di sisi lain kami juga mengedepankan protokol kesehatan yang waktu itu telah ditetapkan yakni pengecekan  temperatur suhu tubuh saat memasuki hotel dari pintu masuk pengunjung maupun  karyawan, menyediakan akses dan fasilitas tempat cuci tangan dan pelatihan tata cara dan  pentingnya cuci tangan, intens melakukan desinfektan di beberapa area yang berpotensi  untuk berkembangnya virus tersebut”, imbuhnya.

Meskipun sempat penurunannya sangat tinggi tetapi berbagai cara tentunya tetap  diusahakan agar menyelamatkan sektor pariwisata dan perhotelan di Kota Semarang.

Tren Positif dan Kepercayaan Masyarakat
Setelah diberikan kelonggaran dibukanya sektor pariwisata dan hiburan oleh Walikota  Semarang sampai hari ini Disbudpar Kota Semarang telah mengeluarkan 95 rekomendasi  kepada tempat hiburan dan wisata untuk dibuka kembali, kategorinya beragam antaranya  karaoke, SPA, Bar & Lounge, arena permainan dan tempat wisata.
“Persyaratannya keseluruhan hampir sama protokol kesehatannya tetapi ada yang lebih  spesifik seperti karaoke dimana biasanya ada pemandu karaoke untuk saat ini tidak  diperkenankan dan untuk jam operasional buka sampai pukul 22.00 WIB. Untuk SPA,  pengunjung wajib mandi terlebih dahulu kemudian terapis menggunakan sarung tangan  dalam melakukan pemijatan. Memang kurang nyaman tapi paling tidak rasa dari kerinduan untuk dipijat dapat dikurangi”, terang Kadisbudpar.

Tanggapan juga disampaikan Jeffry Febriyanto selaku General Manager hotel ciputra. “Kami  sangat mengapresiasi sekali dan secara positif menyambut hal ini dan terima kasih kepada  Walikota Semarang karena dengan dibukanya kelonggaran dunia wisata tentunya hal tersebut berdampak secara langsung di hotel dengan adanya sedikit peningkatan yang mulai menunjukkan tren yang sangat positif. Tentunya kami sikapi dengan disiplin mengikuti  protokol kesehatan dan beberapa aspek operasional kami sesuaikan termasuk dalam  menyiapkan beberapa hal seperti ketersediaan tempat cuci tangan, desinfektan yang  tersedia di tempat tertentu serta memberi pelatihan kepada karyawan kami tentang protokol  kesehatan”, tuturnya.

Kadisbudpar Kota Semarang menambahkan, “kalau di sektor pariwisata kami memang harus melakukan tindakan preventif seperti itu, responnya adalah saat kami mengeluarkan surat rekomendasi pembukaan kembali usaha sektor pariwisata. Itu yang menjadikan kami  percaya bahwa komitmen bersama inilah yang kami pegang bersama sesuai dengan arahan dari Walikota dan sektor pariwisata kata “trust” adalah kepercayaan masyarakat itu yang  paling penting”.

New Normal dan Influencer
Protokol kesehatan sudah diterapkan, Kota Semarang beberapa waktu lalu menghadirkan  kegiatan seperti Semarang Virtual Fashion, acara ini sebagai contoh penyelenggaraan acara  untuk mengurangi pertemuan dalam jumlah yang besar.

“Saya apresiasi untuk teman-teman ekonomi kreatif, pelaku seni dan budaya. Mereka tidak berhenti begitu saja, menyerah dengan keadaan ini tetapi justru memunculkan inovasi baru dalam menyelenggarakan kegiatan. Ada yang dari virtual, kemudian tidak hanya di tonton dari Kota Semarang saja tetapi seluruh Indonesia. Yang ditampilkan pun fashionnya juga sesuai dengan tema kita sehingga mereka tetap menggunakan masker dan APD lengkap”  kata Indriyasari.

“Tidak hanya virtual, konser dengan jumlah terbatas seperti konser adaptasi yang digagas oleh para seniman lokal Kota Semarang. Penontonnya dibatasi 50 orang, boleh joget tetapi tetap di tempat. Ada juga konser yang menginginkan jumlah yang banyak, padahal sedang PKM maksimal 50 orang dan harus berjarak. Jadi disiasati dengan konser Drive-in”

“Jadi kita nonton konser dari dalam mobil, mobilnya terbatas, diberi jarak, yang nonton di  dalam mobil juga terbatas”, terangnya.

Atas penyelenggaraan konser tersebut Kota Semarang mendapat penghargaan dari  Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia dimana konser dengan konsep Drive-in pertama  kali diselenggarakan di Indonesia.

Target Pengunjung
Menurut Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari mengatakan “saat ini target kita tidaklah pengunjung banyak akan tetapi pengunjung yang aman”.

“Karena masyarakat sekarang sudah terbiasa menggunakan informasi tekhnologi dan media sosial, maka strategi dalam memasarkan kami ubah sehingga beberapa hari lalu kami meluncurkan aplikasi baru yang bisa digunakan dan diakses oleh semua wisatawan yang  datang. Tentunya kami berharap semua industri pariwisata dan stakeholder pariwisata juga terlibat disini”.
“Aplikasi ini disusun oleh Pemerintah, jadi nanti dari hotel, restoran, SPA, tempat wisata, tempat hiburan sampai pemandu wisata dapat tergabung dalam satu aplikasi yakni Lunpia”, jelasnya.

“Nama Lunpia itu bila orang mengatakan lunpia itu pasti bilang Semarang”.
Aplikasi tersebut dapat diunduh baik android maupun Ios, kemudian wisatawan dapat  mengakses dari penginapannya, restoran, tempat wisata dan hiburan sampai transportasi yang akan mereka gunakan.

“Jadi misalnya dia mau ke hotel ciputra, di hotel ini ada apa, kesana pakai apa, jalan kaki mungkin berapa menit itu semua dapat diakses hingga event yang akan diselenggarakan di  Kota Semarang”, tambahnya.

Jeffry Febriyanto menambahkan, “targetnya kita sesuaikan dengan kondisi yang ada, dengan dibukanya kembali akses menuju Kota Semarang melalui bandara dan mudahnya akses  jalan tol tentunya berdampak meningkatnya volume intensitas pengunjung”.

“Ini tentunya membuka jalan untuk kami mulai menyesuaikan dengan perolehan bisnis yang  ada, akan tetapi secara umum kami melihat dari bulan Juli ini mudah-mudahan tren positif  tersebut tetap berlanjut sampai akhir tahun ini”, kata Jeffry.

 

Lihat selengkapnya di https://www.youtube.com/watch?v=KbTcaOsq0jM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *