By Super Admin
Yogyakarta, 5 Agustus 2025 – Mengusung tema “Rumah Semarang: Menapak Jejak Jalur Gula, Budaya, dan Persahabatan”, Pameran Upakarya Semarang #2 hadir sebagai bagian dari rangkaian Rakernas XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Diselenggarakan selama 5‑9 Agustus 2025, pameran ini terbuka untuk umum mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB dengan agenda pendamping seperti tur kuratorial.
Melalui ruang kuratorial bertajuk “Rumah Semarang”, pengunjung diajak menyelami perjalanan sejarah relasi twoway: Yogyakarta sebagai sentra produksi gula dan Semarang sebagai pintu ekspor ke dunia. Pada masa itu, gula disebut “setara emas”, dari konektivitas inilah yang merevolusi ekonomi kedua kota tersebut. Jalur kereta api Semarang–Yogyakarta yang dibuka pada 1905 memangkas waktu tempuh hingga hanya 4 jam, sehingga dapat mempercepat distribusi gula dari 1 bulan ke 4 jam melalui rute baru via Magelang.
“Relasi dua kota ini dulunya sangat kuat, terutama melalui perdagangan gula. Jogja memproduksi, Semarang mengekspor. Tapi konektivitasnya baru benar-benar terwujud saat jalur kereta api Semarang–Yogyakarta dibuka tahun 1905.”—R. Wing Wiyarso, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.
Pak Wing menegaskan bahwa relasi ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga keberagaman sosial dan toleransi. Dalam pengabdiannya, Semarang dianggap sebagai potret mini Indonesia, di mana kontribusi dan prestasinya menjadi pengikat utama masyarakat multietnik.
Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta (Yetti Martanti), yang menyebut ini sebagai “kenangan yang hidup kembali” yang bukan sekadar menampilkan artefak, tapi menghadirkan dialog sejarah dan masa kini. Pameran Upakarya #2 dibuka dengan simbol pemukulan kenthongan yang dihadiri langsung oleh Kepala Disbudpar Semarang, Kepala Kundha Kebudayaan Kota Yogyakarta, dan Kepala Dispar Kota Palembang.
Pameran Upakarya #2 juga menghadirkan beberapa komunitas seperti Jejak Kartu Pos dan Senyum Labs untuk turut berkolaborasi dalam merangkai cerita visual dan budaya yang terhubung erat dengan identitas Kota Semarang. Pameran ini diharapkan menjadi energi kolaboratif antara Semarang, Yogyakarta, dan Palembang dan menjadi inspirasi bagi anak muda, pelaku seni, dan pembuat kebijakan untuk terus menjalin persahabatan lintas wilayah, sehingga warisan budaya dapat tetap hidup dan berkembang dalam setiap generasi.